Powered By Blogger

Senin, 11 Maret 2013

Sembiring Brahmana


Pada abad 16, Seorang Guru Mbelin dari India bernama Megit Brahmana datang ke Tanah Karo.
Kedatangan Megit Brahmana ke Tanah Karo pertama kali ke kampung Sarinembah,
tempat seorang muridnya dulu di India berkasta Kstaria Meliala bermukim.
Brahmana disebut juga golongan Sarma atau tertinggi dalam kasta di India.

Bersama muridnya ini Megit Brahmana berangkat menuju kuta Talun Kaban (sekarang Kabanjahe)
dimana ada sebuah Kerajaan Urung XII Kuta yang rajanya adalah Sibayak Talun Kaban bermerga Purba.

Di daerah itu dia disambut hangat oleh Sibayak dan rakyatnya.
Megit Brahmana menuturkan pada Sibayak ingin menyebarkan agama pemena (baca : Hindu) di daerah itu.
Maksud kedatangan Megit dan muridnya ini disambut hangat oleh raja dan rakyatnya.
Di daerah itu pula Megit Brahmana kemudian disegani sebagai pemuka agama.
Sibayak lalu mengangkatnya sebagai penasehat pribadinya.


MEGIT BRAHMANA DAN GURU TOGAN RAYA

Suatu hari Sibayak menuturkan masalahnya pada Megit Brahmana kalau dia mempunyai permasalahan dengan Guru Togan Raya.
Tanah-tanah perladangan rakyatnya di kampung Raya dan Samura telah direbut oleh Guru itu.
Guru Togan Raya bermerga Ketaren adalah seorang dukun sakti yang disegani semua orang.
Dia berasal dari kampung Raya.
Namanya Togan berarti menentang siapa saja yang menghadangnya.
Guru itu mempunyai kerbau banyak.
Kemana saja kerbau yang digembalakannya pergi maka tanah itu menjadi miliknya.
Orang-orang yang punya tanah tidak berani menentangnya.
Siapa yang menentang berarti mati.

Sibayak mengharapkan bantuan Megit Brahmana untuk bernegoisasi dengan Guru Togan.
Megit Brahmana dan muridnya orang Meliala tersebut menyanggupinya.
Mereka lalu membuat tempat pemujaan di ladang-ladang rampasan Guru Togan Raya.

Suatu hari ketika sedang bersemedi, mereka bertemu Guru Togan Raya.
Mereka tidak ada saling berucap kata-kata namun menyatukan batin.
Mereka saling menghargai dan menghormati.
Ternyata setelah bertutur, Megit Brahmana dan Meliala adalah Anak Beru Guru Togan Raya.
Akhirnya mereka menyampaikan maksud tujuan mereka. Guru Togan Raya mengabulkannya.
Semua tanah perladangan Sibayak Talun Kaban dikembalikannya.

Semua orang Purba dan anak berunya menyambutnya dengan sukacita.
Sejak saat itu hubungan merga Purba dan Ketaren semakin harmonis.
Tempat pemujaan itu kemudian dinamakan Barung-Barung Berhala,
karena banyak patung-patung berhala pemujaan Guru Mbelin Mbelin Brahmana.
Sekarang Barung Berhala telah menjadi Kuta Berhala.


MECU, MBARU, MBULAN
Karena keinginan Sibayak agar kedua Guru Mbelin itu tidak pergi dari kampungnya Talun Kaban,
maka Sibayak mengawinkan mereka dengan gadis pilihan dari keluarganya.
Guru Mbelin Brahmana akhirnya mendapat 3 putra yang kemudian diberi nama Mecu, Mbaru, dan Mbulan.

Suatu hari Sibayak Talun Kaban dan pengawalnya berburu babi hutan.
Rombongannya menyusuri lembah lau Gurun dan sampai ke sebuah pokok kayu bernama ‘buah’.
Tiba-tiba anjing yang menyertai mereka mengonggong ke satu tempat.
Di situ ada seekor kepiting besar.
Sibayak melemparkan lembingnya dari bekas kepiting itu keluar air jernih, tempat itu kemudian dinamakan Lau Cimba Simalem.

Kemudian Sibayak Talun Kaban, memindahkan kampungnya dari Talun Kaban ke seberang jurang sungai Lau Cimba Simalem.
Kuta itu kemudian diberi nama Rumah Kabanjahe.
Kabanjahe artinya hilir kaban, karena kampung ini dihilir kampung Kaban dari merga Kaban.

Di kampung itu berdiri Rumah Derpih, Rumah Selat, Rumah Buluh, Rumah Galuh untuk putera-putera Sibayak.
Sementara Guru Mbelin Brahmana mendirikan rumah-rumah anaknya yang bernama Rumah Mecu, Rumah Mbaru, dan Rumah Mbulan.
Sementara Guru Mbelin Meliala mendirikan rumah anaknya di sebelah timur yang bernama Rumah Julu.
Lalu berdiri pula Rumah Jahe dari merga Purba Kuta Kepar.
Dan terakhir Rumah Bale juga dari merga Purba


MECU BRAHMANA DAN KETURUNANNYA

Mecu Brahmana mempunyai keturunan.
Keturunannya kemudian menyebar ke Bulan Julu dan Namo Cekala
Sedangkan di Rumah Mecu Kabanjahe keturunanannya mempunyai 4 rumah adat tetapi dibawah pengulu kesain Rumah Mbaru.


MBULAN BRAHMANA DAN KETURUNANNYA

Mbulan Brahmana mempunyai anak lelaki beberapa orang.
Salah satunya menjadi pengulu di kesain Rumah Mbulan Tanduk.
Rumah adatnya ada dua.

Salah seorang anak laki-lakinya yang paling sulung pergi merantau ke kaki Sinabung.
Disana dia kawin dengan seorang Beru Perangin-angin dan mendapat beberapa orang anak.
Suatu hari keluar dari sebuah lubang kerbau yang sangat banyak dan tidak habis-habisnya.
Putera Mbulan Brahmana bersama anak-anaknya kemudian menutup lubang itu,
dari lubang itu akhirnya tumbuh Buluh Kayan yaitu bambu yang bertuliskan aksara Karo.

Buluh Kayan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Orang-orang dari berbagai kuta berduyun-duyun datang ke kampung itu untuk berobat,
akhirnya kampung itu semakin ramai dan disebut Guru Kinayan yang berasal dari kata Guru Buluh Kayan.

Kemudian putra dari Brahmana di Guru Kinayan itu melanjutkan warisan bapanya sebagai Guru Kinayan.
Sementara bapanya akan melanjutkan perjalanan.
Mulai saat itu semua keturunannya disebut Sembiring Guru Kinayan.

Suatu saat datanglah musim kemarau.
Anak Mbulan Brahmana dan puteranya yang lain mendaki Gunung Sinabung untuk melihat daerah mana yang ada airnya.
Terlihat mereka sebuah kolam air di sebelah hilir Lau Biang.

Brahmana keturunan Mbulan itu melanjutkan perjalanannya ke kampung itu bersama anak laki-lakinya yang lain.
Sementara anak laki-lakinya yang menjadi dukun penyembuh tetap tinggal di Guru Kinayan.
Tibalah mereka di kampung Perbesi.
Anak laki-lakinya kawin dengan Perangin-angin Sebayang.
Keturunannyalah yang menjadi Brahmana Perbesi.

Brahmana keturunan Mbulan itu suatu hari menggembalakan kerbau-kerbaunya yang banyak dari Guru Kinayan dan mendirikan barung-barung di Limang.
Kerbau-kerbau yang digembalakannya bertambah banyak.
Akhirnya dia menetap di Limang.
Keturunannya kemudian menjadi Brahmana Limang.

Salah seorang keturunan Brahmana Perbesi pergi ke Kuta Buara dan bermukim disana.
Sementara keturunannya yang lain pergi ke Bekawar di Langkat dan kawin dengan gadis disana.
Keturunannyalah yang menjadi Brahmana Bekawar di Langkat Hulu.
Keturunannya mendiami kampung Salapian dan Bahorok.

Refrensi :

  1. http://silima-merga.blogspot.com/2010/10/sembiring-brahmana.html

Kematian dan Upacaranya di Adat Karo


Kematian dalam adat Karo secara umum dibagi dalam 3 (tiga) jenis yakni ;
  1. Cawir Metua, adalah apabila umur yang meninggal tersebut sudah lanjut dan anak-anaknya semua sudah berkeluarga (menikah) dan sudah pula diupacarai dengan acara “Ngembahken Nakan” (memberi makan orang tua yang sudah uzur atau lama sakit dan dianggap kecil kemungkinan untuk sembuh) .
  2. Tabah-Tabah Galoh, merupakan kematian yang belum berumur lanjut, akan tetapi anak-anaknya sudah berkeluarga (menikah) semua.
  3. Mate Nguda, adalah suatu kematiaan ketika masih berusia muda, belum menikah dan bila sudah menikah, anak-anaknya belum menikah semua.

Sedangkan dipandang dari penyebab kematian dibagi dalam 9 (sembilan) jenis yakni ;
  1. Mati dalam kandungan, roh yang mati tersebut disebut Batara Guru.
  2. Mati belum dikenal kelaminnya (prematur), rohnya disebut Guru Batara atau Sabutara.
  3. Mati sesudah lahir, roh yang mati tersebut disebut Bicara Guru.
  4. Mati belum tumbuh gigi, anak yang mati ini harus dikubur, dibungkus dengan kain putih (dagangen) dikeluarkan dari rumah adat dari pintu perik (jendela), seseorang menjulurkannya dari rumah dan yang lainnya menerimanya dari luar, penguburannya harus secara rahasia karena takut dicuri orang. Menurut kepercayaan orang-orang yang percaya pada ilmu gaib mayat bayi yang belum tumbuh gigi tersebut dapat dipergunakan untuk kelengkapan ilmu gaib (misalnya Puko = Aji Sirep). Konon Aji Sirep ini digunakan oleh maling-maling atau rampok agar penghuni rumah yang mau dirampoknya dalam keadaan tertidur pulas sehingga dia bebas beraksi.
  5. Anak-anak mati telah tumbuh gigi.
  6. Mati perjaka/gadis, pada kematian yang seperti ini bila dia perjaka, Anak Beru akan memasukkan kemaluan yg meninggal ini pada seruas bambu dan bila yang meninggal gadis, maka pada kemaluannya akan dimasukan tongkol jagung disertai ucapan: “Enda sekerajangenmu” (ini bagianmu). Adapula yang menyebutkan, “Enggo pejabu kami kam, enggo sai utang kami” (anda telah kami kawinkan, karena itu kewajiban kami telah selesai). Kata-kata enda sekerajangenmu (ini bagianmu) oleh sebagian orang dipercayai agar roh yang meninggal ini tidak penasaran/ngiler (teran) karena belum merasai “sorga dunia” (hubungan intim suami istri). Dan kata-kata, “Enggo pejabu kami kam, enggo sai utang kami” dari Anak Beru yang merupakan suatu pernyataan dari Anak Beru yang mengatakan tugasnya sudah selesai untuk mengantarkan/mengurus anak kalimbubunya sampai kejenjang pernikahan.
  7. Mati melahirkan, (sirang ture)
  8. Mati kayat-kayaten, (sakit-sakitan)
  9. Mate sada wari, (meninggal karena kecelakaan), kuburan orang ini dipisahkan dari kuburan umum dan biasanya dibuat dekat rumah ditanami galoh dan dipuja.

Bahwa dari rupa-rupa kematian diatas pelaksanaan adatnya ada kalanya ada tambahan-tambahan khusus tapi ucapara gendangnya hampir sama. Tambahan-tambahan khusus tersebut misalnya seperti terhadap kematian perjaka atau gadis pada kemaluan laki-laki dipasang ruas bambu dan pada kemaluan gadis dimasukan tongkol jagung. Tadi telah diuraikan bahwa pada kematian yang disebabkan keadaan-keadaan yang berbeda maka roh yang mati tersebut dipanggil dengan sebutan berbeda-beda pula.

Refrensi :
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/01/upacara-kematian.html

Sejarah Kabupaten Karo Dalam Mencapai Kemerdekaan


Kabar-kabar angin bahwa Belanda akan melancarkan agresi I militernya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia kian semakin santer, puncaknya, pagi tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan ke seluruh sektor pertempuran Medan Area. Serangan ini mereka namakan “Polisionel Actie” yang sebenarnya suatu agresi militer terhadap Republik Indonesia yang usianya baru mendekati 2 tahun.
Pada waktu kejadian itu Wakil Presiden Muhammad Hatta berada di Pematang Siantar dalam rencana perjalanannya ke Banda Aceh. Di Pematang Siantar beliau mengadakan rapat dengan Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan. Dilanjutkan pada tanggal 23 Juli 1947 di Tebing Tinggi. Pada arahannya dengan para pemimpin-pemimpin perjuangan, wakil presiden memberikan semangat untuk terus bergelora melawan musuh dan memberi petunjuk dan arahan menghadapi agresi Belanda yang sudah dilancarkan 2 hari sebelumnya. Namun Wakil Presiden membatalkan perjalanan ke Aceh dan memutuskan kembali ke Bukit Tinggi, setalah mendengar jatuhnya Tebing Tinggi, pada tanggal 28 Juli 1947. Perjalanan Wakil Presiden berlangsung di tengah berkecamuknya pertempuran akibat adanya serangan-serangan dari pasukan Belanda.
Rute yang dilalui Wakil Presiden adalah Berastagi-Merek-Sidikalang-Siborong-borong-Sibolga-Padang Sidempuan dan Bukit Tinggi. Di Berastagi, Wakil Presiden masih sempat mengadakan resepsi kecil ditemani Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan, Bupati Karo Rakutta Sembiring dan dihadiri Komandan Resimen I Letkol Djamin Ginting’s, Komandan Laskar Rakyat Napindo Halilintar Mayor Selamat Ginting, Komandan Laskar Rakyat Barisan Harimau Liar (BHL) Payung Bangun dan para pejuang lainnya, di penginapan beliau Grand Hotel Berastagi. Dalam pertemuan itu wakil presiden memberi penjelasan tentang situasi negara secara umum dan situasi khusus serta hal-hal yang akan dihadapi Bangsa Indonesia pada masa-masa yang akan datang.
Selesai memberi petunjuk, kepada beliau ditanyakan kiranya ingin kemana, sehubungan dengan serangan Belanda yang sudah menduduki Pematang Siantar dan akan menduduki Kabanjahe dan Berastagi. Wakil Presiden selanjutnya melakukan: “Jika keadaan masih memungkinkan, saya harap supaya saudara-saudara usahakan, supaya saya dapat ke Bukit Tinggi untuk memimpin perjuangan kita dari Pusat Sumatera”.
Setelah wakil presiden mengambil keputusan untuk berangkat ke Bukit Tinggi via Merek, segera Komandan Resimen I, Komandan Napindo Halilintar dan Komandan BHL, menyiapkan Pasukan pengaman. Mengingat daerah yang dilalui adalah persimpangan Merek, sudah dianggap dalam keadaan sangat berbahaya.
Apabila Belanda dapat merebut pertahanan kita di Seribu Dolok, maka Belanda akan dengan mudah dapat mencapai Merek, oleh sebab itu kompi markas dan sisa-sisa pecahan pasukan yang datang dari Binjai, siang harinya lebih dahulu dikirim ke Merek. Komandan Resimen I Letkol Djamin, memutuskan, memerlukan Pengawalan dan pengamanan wakil presiden, maka ditetapkan satu pleton dari Batalyon II TRI Resimen I untuk memperkuat pertahanan di sekitar gunung Sipiso-piso yang menghadap ke Seribu Dolok, oleh Napindo Halilintar ditetapkan pasukan Kapten Pala Bangun dan Kapten Bangsi Sembiring.
Sesudah persiapan rampung seluruhnya selesai makan sahur, waktu itu kebetulan bulan puasa, berangkatlah wakil presiden dan rombongan antara lain: Wangsa Wijaya (Sekretaris Priadi), Ruslan Batangharis dan Williem Hutabarat (Ajudan), Gubernur Sumatera Timur Mr. TM. Hasan menuju Merek. Upacara perpisahan singkat berlangsung menjelang subuh di tengah-tengah jalan raya dalam pelukan hawa dingin yang menyusup ke tulang sum-sum.
Sedang sayup-sayup terdengar tembakan dari arah Seribu Dolok, rupanya telah terjadi tembak-menembak antara pasukan musuh / Belanda dengan pasukan-pasukan kita yang bertahan di sekitar Gunung Sipiso-piso.
Seraya memeluk Bupati Tanah Karo Rakutta Sembiring, wakil presiden mengucapkan selamat tinggal dan selamat berjuang kepada rakyat Tanah Karo. Kemudian berangkatlah wakil presiden dan rombongan, meninggalkan Merek langsung ke Sidikalang untuk selanjutnya menuju Bukit Tinggi via Tarutung, Sibolga dan Padang Sidempuan.
Sementara itu, keadaan keresidenan Sumatera Timur semakin genting, serangan pasukan Belanda semakin gencar. Akibatnya, ibu negeri yang sebelumnya berkedudukan di Medan pindah ke Tebing Tinggi.
Bupati Rakutta Sembiring, juga menjadikan kota Tiga Binanga menjadi Ibu negeri Kabupaten Karo, setelah Tentara Belanda menguasai Kabanjahe dan Berastagi, pada tanggal 1 Agustus 1947.
Namun sehari sebelum tentara Belanda menduduki Kabanjahe dan Berastagi, oleh pasukan bersenjata kita bersama-sama dengan rakyat telah melaksanakan taktik bumi hangus, sehingga kota Kabanjahe dan Berastagi beserta 51 Desa di Tanah Karo menjadi lautan Api.
Taktik bumi hangus ini, sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa dari rakyat Karo demi mempertahankan cita-cita luhur kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat dengan sukarela membakar apa saja yang dimiliki termasuk desa dengan segala isinya.
Kenyataan itu telah menyebabkan wakil presiden mengeluarkan keputusan penting mengenai pembagian daerah dan status daerah di Sumatera Utara yang berbunyi sebagai berikut:
“Dengan surat ketetapan Wakil Presiden tanggal 26 Agustus 1947 yang dikeluarkan di Bukit Tinggi, maka daerah-daerah keresidenan Aceh, Kabupaten Langkat, kabupaten Tanah Karo, dijadikan satu daerah pemerintahan militer dengan Teungku Mohammad Daud Beureuh sebagai Gubernur Militer. Sedangkan daerah-daerah keresidenan Tapanuli, Kabupaten Deli Serdang, Asahan dan Labuhan Batu menjadi sebuah daerah pemerintahan Militer dengan Dr. Gindo Siregar sebagai Gubernur Militer. Masing-masing Gubernur Militer itu diangkat dengan Pangkat Mayor Jenderal.
Selanjutnya melihat begitu besarnya pengorbanan rakyat karo ini, wakil presiden Drs. Mohammad Hatta menulis surat pujian kepada rakyat Karo dari Bukit Tinggi pada tanggal 1 Januari 1948. Adapun surat wakil presiden tersebut selengkapnya sebagai berikut:
Bukittinggi, 1 Januari 1948
“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kuncintai”.
Merdeka!
Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah dan kampung halaman habis terbakar dan musuh melebarkan daerah perampasan secara ganas, sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO.
Tetapi sebaliknya kami merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.
Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati. Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar pendirian Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan. Demikian pulalah tekad Rakyat Indonesia seluruhnya. Rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam, malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
Di atas kampung halaman saudara-saudara yang hangus akan bersinar kemudian cahaya kemerdekaan Indonesia dan akan tumbuh kelak bibit kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Karo, sebagai bagian dari pada Rakyat Indonesia yang satu yang tak dapat dibagi-bagi.
Kami sudahi pujian dan berterima kasih kami kepada Saudara-saudara dengan semboyan kita yang jitu itu: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Saudaramu,
MOHAMMAD HATTA
Wakil Presiden Republik Indonesia
Selanjutnya, untuk melancarkan roda perekonomian rakyat di daerah yang belum diduduki Belanda, Bupati Rakutta Sembiring mengeluarkan uang pemerintah Kabupaten Karo yang dicetak secara sederhana dan digunakan sebagai pembayaran yang sah di daerah Kabupaten Karo.
Akibat serangan pasukan Belanda yang semakin gencar, akhirnya pada tanggal 25 Nopember 1947, Tiga Binanga jatuh ke tangan Belanda dan Bupati Rakutta Sembiring memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Karo ke Lau Baleng. Di Lau Baleng, kesibukan utama yang dihadapi Bupati Karo beserta perangkatnya adalah menangani pengungsi yang berdatangan dari segala pelosok desa dengan mengadakan dapur umum dan pelayanan kesehatan juga pencetakan uang pemerintahan Kabupaten Karo untuk membiayai perjuangan.
Setelah perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, Pemerintah RI memerintahkan seluruh Angkatan Bersenjata Republik harus keluar dari kantung-kantung persembunyian dan hijrah ke seberang dari Van Mook yaitu daerah yang dikuasai secara de jure oleh Republik.
Barisan bersenjata di Sumatera Timur yang berada di kantung-kantung Deli Serdang dan Asahan Hijrah menyeberang ke Labuhan Batu. Demikian pula pasukan yang berada di Tanah Karo dihijrahkan ke Aceh Tenggara, Dairi dan Sipirok Tapanuli Selatan. Pasukan Resimen I pimpinan Letkol Djamin Ginting hijrah ke Lembah Alas Aceh Tenggara. Pasukan Napindo Halilintar pimpinan Mayor Selamat Ginting hijrah ke Dairi dan pasukan BHL pimpinan Mayor Payung Bangun hijrah ke Sipirok Tapanuli Selatan.
Berdasarkan ketentuan ini, dengan sendirinya Pemerintah Republik pun harus pindah ke seberang garis Van mook, tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Karo yang pindah mengungsi dari Lau Baleng ke Kotacane pada tanggal 7 Pebruari 1948. Di Kotacane, Bupati Rakutta Sembiring dibantu oleh Patih Netap Bukit, Sekretaris Kantor Tarigan, Keuangan Tambaten S. Brahmana, dilengkapi dengan 14 orang tenaga inti.
Selanjutnya untuk memperkuat posisi mereka, Belanda mendirikan Negara Sumatera Timur. Untuk daerah Tanah Karo Belanda menghidupkan kembali stelsel atau sistem pemerintahan di zaman penjajahan Belanda sebelum perang dunia kedua.
Administrasi pemerintahan tetap disebut Onder Afdeling De Karo Landen, dikepalai oleh seorang yang berpangkat Asisten Residen bangsa Belanda berkedudukan di Kabanjahe. Di tiap kerajaan (Zeifbesturen) wilayahnya diganti dengan Districk sedangkan wilayah kerajaan urung dirubah namanya menjadi Onderdistrick.
Adapun susunan Pemerintahan Tanah Karo dalam lingkungan Negara Sumatera Timur adalah: Plaatslijkbestuur Ambteenaar, A. Hoof. Districthoofd Van Lingga, Sibayak R. Kelelong Sinulingga, Districhoofd Van Suka, Sibayak Raja Sungkunen Ginting Suka, Districhoofd Van Sarinembah, Sibayak Gindar S. Meliala, Districthoofd Van Kuta Buluh, Sibayak Litmalem Perangin-angin.

Refrensi :

  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/02/sejarah-kabupaten-karo-zaman.html

Kerajaan Di Tanah Karo


Berdasarkan sejarah perkembangannya, sebelum adanya kerajaan-kerajaan di Tanah Karo, masyarakatnya hanya terdiri dari bangsa tanah yang menumpang dan datang dari luar. Pada waktu itu pimpinan diangkat dari marga tanah dibantu oleh senina dan anak berunya yang lama kelamaan medirikan suatu kesain dan pimpinannya tetap berasal dari keluarga bangsa tanah itu. Beberapa kesain tersebut mengadakan perserikatan yang disebut urung dengan pimpinannya yang disebut Bapa Urung. Dengan terbentuknya kepemimpinan dalam satu urung maka semakin menonjollah keinginan berkuasa untuk menjaga prestise sehingga akhirnya terjadi perselisihan antara urung yang satu dengan urung yang lain.

Sekitar 1607-1636 Aceh dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda mengadakan penyebaran agama islam ke tanah Karo. Melihat adanya perselisihan antara urung-urung yang terdapat di tanah Karo maka utusan Raja Aceh yang disebut Tuan Kita meresmikan 4 (empat) kerajaan adat yang disebut Sibayak yang diperintah oleh empat orang raja yang mempunyai luas daerah yang berbeda-beda yaitu :

1. Kerajaan Lingga terdiri dari enam urung, yaitu :
a. Urung XII Kuta yang berkedudukan di Kabanjahe
b. Urung III Kuru yang berkedudukan di Lingga
c. Urung Naman yang berkedudukan di Naman
d. Urung Tigapancur yang berkedudukan di Tigapancur
e. Urung Teran yang berkedudukan di Batukarang
f. Urung Tiganderket yang berkedudukan di Tiganderket


2. Kerajaan Barusjahe yang terdiri dari dua urung, yaitu :
a. Urung si VII yang berkedudukan di Barusjahe
b. Urung si VI yang berkedudukan di Sukanalu


3. Kerajaaan Suka yang terdiri dari empat urung, yaitu :
a. Urung Suka yang berkedudukan di Suka
b. Urung Sukapiring yang berkedudukan di Seberaya
c. Urung Ajinembah yang berkedudukan di Ajinembah
d. Urung Tongging yang berkedudukan di Tongging


4. Kerajaan Sarinembah yang terdiri dari empat urung, yaitu :
a. Urung XVII Kuta yang berkedudukan di Sarinembah
b. Urung Perbesi yang berkedudukan di Perbesi
c. Urung Juhar yang berkedudukan di Juhar
d. Urung Kutabangun yang berkedudukan di Kutabangun


5. Kerajaan Kutabuluh yang terdiri dari dua urung, yaitu :
a. Urung Namohaji yang berkedudukan di Kutabuluh
b. Urung Langmelas yang berkedudukan di Mardingding

Sedangkan Kerajaan Kutabuluh diresmikan oleh Pemerintah Belanda yang pada tahun 1890 Belanda masuk ke Tanah Karo dengan tujuan berdagang sekaligusmelancarkan politik devide et impera yang membuat perselisihan antar urung terjadi kembali disusul dengan kedatangan Jepang pada tahun 1942 yang semakin menambah penderitaan rakyat.


Refrensi :

  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/02/kerajaan-di-tanah-karo.html

Pemujaan dan Upacara Ritual Karo


Buah huta-uta, yang biasanya merupakan batang buah pohon besar didekat desa, yang dipercayai ditunggui oleh tenaga gaib yang dikeramatkan. Pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara persembahan yang disertai gendang sarune (gong, serunai, pengual) di mana “Guru Sibaso” berperan penting di situ.
Galoh, adalah satu tempat tertentu berupa persembahan yang ditanami
kalinjuhang, sangka sampilet, galoh si tabar, tabar-tabar, besi-besi, kapal-kapal dan ambatuah, dilingkari pagar bambu berdiameter lebih kurang 4 meter.
Silanen, adalah batu besar yang letaknya tidak begitu jauh dari desa.
Biasa orang menaruh sesuatu sebagai sesajen di atas batu ini sambil
menyampaikan keinginannya.
kapal dan ambatuah, dilingkari pagar bambu berdiameter lebih kurang 4
meter.
Adapun upacara-upacara ritual yang dilakukan orang Karo :
  1. Perumah Begu, yaitu upacara pemanggilan arwah seseorang yang sudah meninggal melalui guru sibaso (dukun)
  2. Ndilo tendi, upacara ini dilakukan apabila ada seseorang yang terkejut akan suatu kejadian, baik karena penglihatan, pendengaran atau jatuh, hanyut,dll. Di mana tendi tersebut akan meninggalkan tubuhnya karena terkejut.
  3. Nengget, adalah upacara yang ditujukan kepada pasangan suami istri yang setelah sekian tahun berumahtangga namum belum memiliki anak.
  4. Ngarkari, ialah upacara menghindari suatu kemalangan yang dialami oleh suatu keluarga di mana guru sibaso berperan penting.
  5. Perselihi, ialah upacara pengobatan suatu penyakit atas diri seseorang, di mana untuk menghindari penyakit menjadi lebih berbahaya.
  6. Ngulakken, ialah suatu upacara agar penyakit yang menyerang seseorang karena dibuat sengaja oleh orang lain hilang. Dan kalau bisa penyakit tadi dipantulkan kembali ke si pembuatnya.
  7. Erpangir Ku Lau, adalah untuk membersihkan diri seseorang atau keluarga secara keseluruhan, menghilangkan kesulitan, malapetaka dan lainnya.
  8. Ndilo Wari Udan, memanggil turunnya hujan kepada Tuhan agar musim kemarau diganti musim hujan.
  9. Ngeluncang, ialah upcara ritual untuk mengusir segala pengganggu seperti roh halus agar desa tersebut terhindar dari penyakit atau malapetaka.
  10. Njujungi Beras Piher, adalah satu upacara yang isinya berupa ucapan selamatan dan doa agar orang tersebut dapat diberikan keteguhan iman dan lain-lain

    Refrensi: 
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/03/pemujaan-dan-upacara-ritual.html

Percintaan Masyarakat Karo Tempo Doeloe


Percintaan masyarakat Karo tempo dulu sangat unik. Tempo dulu yang dimaksudkan disini adalah masa dimana rumah adat Karo masih ada sebelum dibumihanguskan di zaman revolusi tahun 1947. Tentu saja tidak seperti zaman sekarang yang kesemuanya begitu mudah. Gaya bercinta masyarakat Karo dahulu begitu penuh liku-liku. Segala perjuangan untuk mendapatkan jantung hati harus secara gigih dengan berbagai ketentuan adat sebagai hukum tak resmi.

Seorang pemuda yang telah dewasa disebut anak perana. Dikatakan anak perana jika ia sudah berhak mengenakan celana panjang (seluar gedang), sudah berhak tidur bersama pemuda lainnya di Jambur, sudah menjalankan sunat (kacip-kacip) dan sudah gerat-geraten (kelenjar hormon sudah ada). Sedangkan tanda-tanda seorang wanita telah dewasa dan disebut singuda-nguda apabila sudah datang bulan (ngidah bulan), sudah berhak menjadi anggota aron mbelin (sebelum dewasa biasanya ikut aron erlajar), sudah berhak mengikuti acara guro-guro aron, sudah bisa tidur bersama gadis-gadis lainnya.

Sudah menjadi adat dan kebiasaan dalam masyarakat Karo kalau di satu keluarga sudah ada anak perana atau singuda-nguda untuk secepatnya dinikahkan (erjabu). Sehingga jika si orang tua bertemu dengan anaknya tersebut maka pertanyaan yang selalu diajukan adalah kapan ‘erjabu’. Saking seringnya orang tua menanyakan pertanyaan tersebut maka biasanya si anak perana langsung pergi menghindar percakapan. Jadi ada indikasi di zaman dulu kalau anak perana dan singuda-nguda yang belum ‘erjabu’ jarang sekali berada di rumah. Paling ke rumah hanya untuk makan lalu pergi lagi agar bisa menghindari pembicaraan orang tuanya tentang ‘erjabu’ itu.

Orang-orang tua Karo mempunyai falsafah kalau anaknya belum ‘erjabu’ maka masih ada utang adat, menjadi pergunjingan di kuta bahkan dianggap aib keluarga. Jadi adat secara tidak langsung mengatakan orang tua Karo masih punya tanggung jawab selama anaknya belum dinikahkan. Kalau anak perana memang sudah berkeinginan untuk ‘empo’ (menikah untuk laki-laki) maka pertama kali ia akan melakukan “ngaras-ngaras” yaitu pergi ke kuta lain untuk mencari calon kekasihnya. Jika memang sudah ada wanita yang cocok maka si anak perana akan berusaha mengenalnya. Cara berkenalannya juga beragam ada secara bertutur, lewat teman dan lain sebagainya.

Setelah pemuda menjatuhkan pilihan pada gadis pujaannya maka dilaksanakan maka memasuki tahap naki-naki (pedekatan). Untuk saling mengungkap perasaan masing-masing mereka bertemu malam hari. Sebelum pemuda-pemudi dapat bertemu di ture (teras rumah adat), si pemuda berusaha mempengaruhi seorang ibu yang biasanya janda, dengan mempersembahkan belo sempedi agar perempuan ini bersedia menjadi perantara untuk mempertemukan dia dengan sang pujaan hati. Naki-naki dapat dilakukan oleh anak perana dari desa lain (tandang) atau dari desa yang sama dengan singuda-nguda. Jika dia berasal dari desa lain, sudah menjadi keharusan bagi anak perana itu untuk bergaul dengan anak perana desa setempat. Tujuannya, agar keamanan terjamin, dapat tidur di Jambur desa dan bisa memanfaatkan pemuda desa untuk kelancaran naki-naki yang dlakukannya.

Pertemuan paling ditunggu tentu saja di ture pada malam hari. Biasanya pertemuan itu mempergunakan bahasa Karo halus dan tinggi sekaligus untuk menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa kiasan dan peribaratan. Untuk dapat memahirkan diri dalam sastra naki-naki ini, terkadang mereka berguru pada orang tua yang lebih berpengalaman. Sastra naki-naki disebut cakap lumat.

Sedikit contoh penggalan cakap lumat yang diambil cerita bersambung “Sibayak” karya Joey Bangun yang dimuat di tabloid Karo “Sora Mido.” :

“Enggo dekah kita la jumpa turang,” Santa Perkeleng mengawali pembicaraan. Betapa cantiknya gadis ini. Betapa aku luluh oleh daya tariknya, kata Santa Perkeleng dalam hati. Menda beru Sinulingga, wanita pujaannya itu sudah berada di hadapannya. Apakah ini mimpi, pikirnya lagi.

“Ue Mama,” Sahut Menda. Ia terlihat malu. Bagaimana tidak. Anak perana yang paling dipuja seluruh gadis di seluruh Tanah Karo berada di dekatnya.

“Turang, ma banci nge kita si oraten tutur lebe?” tanya Santa malu-malu. Dia tidak tahu bagaimana lagi harus memulai pembicaraan.

“Banci mama,” jawab Menda tak sanggup menatap wajah laki-laki dihadapannya.

“Beru apai dage kam?”

“Bagi sikukataken sanga kerja tahun mbarenda Mama. Aku beru Karo-karo Sinulingga.”

“Bere-berena ?”

“Bere Sembiring.”

“Adi bage erkai dage orat tuturta?”

“Kai kin mergandu?”

“Mergangku Bangun Tambar Malem.”

“Bere-berena?”

“Bere-bere Karo.”

“Adi bage erkai dage orat tuturta?”

“Adi la kam mehangke rimpal kuakap kita,” jawab Santa Perkeleng tersenyum pasti. Menda membalas dengan senyuman maha indah seolah tak satupun para dewi kahyangan yang sanggup mengalahkan peciremna.

“Engkai maka mehangke adi bage kin seharusna,” jawab Menda pula. Jawaban ini sungguh cipratkan kobaran semangat yang meledak tak tertahan dalam pusuh Santa.

“Piga kam sembuyak agi?” tanya Santa Perkeleng.

“Telu pe empatken ras kam,” sahut Menda malu-malu.

“Piga kam impal kami sidiberu?”

“Sada aku ngenca.”

“Sintua, sintengah, tah singuda kam ?”

“Aku sintua.”

“Kuh denga kin orang tuanta?” kata Santa Perkeleng. Matanya tidak lepas dari wajah manis Menda. Seolah dirinya tidak sudi melepas sedetikpun kesempatan paling berharga yang pernah dialaminya ini.

“Kuh nge orang tuanta tapi mesera-mesera kal,” jawab Menda. Sungguh ia tidak berani menatap lelaki yang dihadapannya ini. “Kam kaka piga kam sembuyak?”.

“Dua pe teluken ras kam.”

“Kam sintua tah singuda?”.

“Aku sintua e maka erkaka tua kam man bangku,” jawab Santa Perkeleng tersenyum.

“Ue kaka tua,” Menda membalas dengan menunduk tersenyum malu.

“Aku pe agi enggo bagenda sibetehen orat tututr kita mis kal meriah ukurku, e maka adi reh pagi aku ku kutandu, ula kam melewas man tandangen,” kata Santa.

“Labo kaka tua rehlah kam,” sahut Menda pasti. Jawaban Menda itu menambah kepastian pada Santa sungguh dia tidak bertepuk sebelah tangan.

“Adi bage mulih lebe aku agi. Matawari pe enggo ncidahken lasna,” sahut Santa Perkeleng mohon diri. Dia berdiri dan mulai membereskan barang-barangnya.

“Anjar-anjar kam kaka. Ertoto aku gelah seh kam ku kuta,” Menda berdiri dan membantu Santa membereskan barangnya. Kemudian dia menggulung tikar. Santa Perkeleng turun dengan tangga ture. Sampai di bawah dia berkata,” Bujur kerina turang. Lawes aku.”

Walaupun sepintas lalu pemuda-pemudi ini sedang diamuk asmara ini terlihat cukup bebas berduaan di ture pada malam hari. Adakalanya hingga pukul 3 atau 4 pagi, namun tidak boleh dilupakan bahwa dari dalam rumah keduanya tetap diawasi oleh orang tua si gadis. Agar jangan sempat terjadi hal-hal yang melanggar susila. Dialog mereka juga tetap diikuti dari dalam rumah oleh si orang tua. Tujuannya agar si gadis dapat dididik dalam melawan cara bicara si pemuda.

Pertemuan naki-naki ini memakan waktu cukup lama bahkan sampai bertahun-tahun. Pada masa inilah keduanya saling mengenal secara pribadi tentang sifat-sifat dan karakter masing-masing. Untuk lebih memikat hati si gadis pilihannya sekaligus menarik simpati pihak si gadis, maka waktu tanaman padi orang tua si gadis sedang mulai berbulir (rumpah), si anak perana melakukan pekerjaan ngkalaki di juma calon mamana (orang tua si gadis). Ngkalaki artinya membuat orang-orangan untuk menakut-nakuti burung di ladang termasuk pantar/batar-batar, belobo gurung-gurung kuda atau siambir-ambiri.

Pekerjaan ini dilakukan pada malam hari dan di kala terang bulan. Bisa memakan waktu satu malam. Jika demikian, si anak perana akan meminta bantuan tenaga dari teman-teman anak perana lainnya. Kalau perlu juga bantuan dari anak berunya. Pagi harinya pada waktu si gadis atau ibunya bermaksud menghalau burung di ladang, dia akan terkejut melihat ladangnya sudah selesai ikalaki. Hal ini akan diselidiki orang tua si gadis siapa gerangan yang melakukan pekerjaan itu. Ketika mereka mengetahui siapa yang melakukan itu tentulah si anak perana menjadi pertimbangan.

Selama proses naki-naki ini berlangsung, bisa juga muncul saingan atau timbang kayo. Suatu hal yang lumrah terjadi sepanjang masa, terjadi kompetisi antara dua atau lebih anak perana. Baik kompetisi sehat maupun tidak sehat. Setelah keduanya saling mengenal betul dalam sifat, karakter, keturunan dan akhirnya sampailah keduanya pada satu kesimpulan untuk membentuk rumah tangga melalui perkawinan.

Percintaan Karo tempo dulu memang unik. Berhubung transportasi nyaris tidak ada, perjuangan berjalan ke kuta sang pujaan hati terkadang memakan waktu berhari-hari. Perjuangan ini pula yang menghantarkan masyarakat Karo pada keagungan cinta dalam tataran adat sangkep nggeluh. Sehingga di zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian.

Percintaan Karo tempo dulu kiranya bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita dalam bertutur dan menghargai perjuangan cinta yang tidak ternilai dalam hidup.

Refrensi :

  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/03/percintaan-karo-tempo-doeloe.html

Sistem tekhnologi Suku Karo


Segolongan kecil dari masyarakat Karo, terutama dari kaum wanita, pekerjaannya ialah menenun kain di mana dapat dihasilkan berbagai jenis, mulai dari halus sampai kasar. Adapun nama-nama dari jenis kain yang ditenun adalah :

Hasil Tenunan
Ulos, kain yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam adat Batak.
Kain gatip, digunakan untuk selimut dan sarung pada upacara adat bersama dengan “julu” dan “ kelam-kelam” yang dilipat, dapat pula dijadikan tudung.
Julu.
Uis Gara, dipakai untuk selimut bagi kaum pria dan wanita, juga sebagai tudung harian wanita.
Uis Nipes, dipergunakan untuk upacara adat bagi kaum wanita maupun pria. Kaum pria umumnya melilitkannya di kepala atau membentuk segitiga digantungkan di tengkuk dengan kedua ujungnya di kiri kanan leher. Sedangkan perempuan memasangkannya sebagai bagian dari variasi pakaian adat pada upacara tertentu.
Uisteba, digunakan dalam upacara adat dan kepercayaan.
Uis arinteneng, digunakan dalam upacara adat. Misalnya sebagai alas piring pada penyerahan uang mahar atau hantaran bagi mereka yang diselamati.
Kelam-kelam, dipakai untuk sarung anak-anak dan alat lapis tudung wanita.
Abit atau kampoh, digunakan untuk sarung sehari-hari dan selimut.


Hasil Anyaman
Kaum wanita ( gadis sampai yang berusia lanjut ) banyak yang bekerja menganyam dengan menggunakan sejenis pohon “bengkuang”, “ketang” dan “cike”, sedang pria menganyam dengan
belahan-belahan bambu dan rotan.


Alat-alat keperluan dapur
Umumnya terbuat dari kayu, bambu, rotan , tanah dan tembaga antara lain :
•Kudin taneh ( periuk memasak sayuran )
•Belanga ( kuali )
•Renceng ( periuk nasi )
•Gelang-gelang (periuk nasi )
•Capah ( piring kayu),dll


Alat penangkap hewan dan ikan
Orang Karo membuat alat penangkap hewan dan ikan terbuat dari bambu, kayu, lidi, ijuk, dan besi, antara lain :
•Ragum ( penangkap tikus dari bahan kawat dan besi )
•Kawil ( kail dari kawat )
•Tuktak dan siding ( penangkap tikus, burung dan ular yang terbuat dari kayu dan bambu),dll.


Alat senjata keperluan sehari-hari
•Sekin ( parang )
•Rawit ( pisau )
•Sabi-sabi ( arit)
•Ketam ( alat pemotong padi )
•Cuan (cangkul )
•Bekong ( beliung )
•Tarah-tarah ( sejenis parang )
•Kapak ( kampak )
•piso surit (sejenis belati
•piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang)
•hujur (sejenis tombak)
•podang (sejenis pedang panjang).,dll


Refrensi :

  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/04/sistem-teknolologi-suku-karo.html

Sistem Pengetahuan Suku Karo


Masyarakat Karo mengenal penanggalan hari dan bulan serta pembagian waktu siang dan malam hari. Satu bulan dibagi dalam 30 hari dan satu tahun dibagi dalam 12 bulan dan masing-masing ada namanya. Adapun nama-nama hari dalam satu bulan adalah sebagai berikut :
1. Aditia
2. Suma Pultak
3. Nggara
4. Budaha
5. Beraspati pultak
6. Cukera enem berugi
7. Belah naik
8. Aditia baik
9. Sumana siwah
10.Nggara sepuluh
11.Budaha ngadep
12.Beras pati tangkep
13.Cukera dudu
14.Belah Purnama
15.Tula
16.Suma cepik
17.Nggara enggo tula
18.Budaha Gok
19.Beras pati sepuluh siwah
20.Cukera dua puluh
21.Belah turun
22.Aditia turun
23.Suma
24.Nggara simbelin
25.Budaha medem
26.Beras pati medem
27.Cukera mate
28.Mate bulan
29.Dalan bulan
30.Samis


Adapun jumlah bulan untuk satu tahun dihitung dengan dua belas.
Nama-nama bulan dan hewan atau benda apa yang bersmaan dengan bulan itu adalah sebagai berikut :
1. Sipaka sada ( kambing )
2. Sipaka dua ( lampu )
3. Sipaka telu ( gaya = cacing )
4. Sipaka empat ( kodok )
5. Sipaka lima ( arimo = harimau )
6. Sipaka enem ( kuliki = elang )
7. Sipaka pitu ( kayu )
8. Sipaka waluh ( tambak = kolam)
9. Sipaka siwah ( gayo = kepiting )
10.Sipaka sepuluh ( baluat )
11.Sipaka sepuluh sada ( batu )
12.Sipaka sepuluh dua (nurung = ikan)


Pembagian waktu dalam sehari atau waktu siang hari dibagi menjadi 5 waktu :
1. Erpagi – pagi ( 06.00 – 09.00 )
2. Pengului (09.00 – 11.00 )
3. Ciger (11.00 - 13.00 )
4. Linge (13.00 - 15.00 )
5. Karaben ( 15.00 – 18.00 )

Untuk malam hari dikenal istilah :
1. Erkata pepet ( 18.00 – 19.00 )
2. Elahman ( 19.00 - 24.00 )
3. Tengah berngi ( 24.00 - 01.00 )
4. Tekuak manok sekali ( 03.00 – 04.00 )
5. Tekuak manok pedua kaliken ( 04.00 – 06.00 )


Masyarakat Karo juga mengenal mata angin atau disebut “ Penjuru bumi “ dan dibagi delapan, sama dengan mata angin yang kita kenal selama ini, yaitu :
1. Pustima – Barat
2. Purba – Timur
3. Utara – Utara
4. Daksina – Selatan
5. Mangabia – Barat Laut
6. Aguni – Tenggara
7. Iresen – Timur Laut
8. Nariti – Barat Daya


Aksara Karo
Huruf (aksara) kari terdiri atas 21 huruf induk utama ditambah sisipan “ Ketelengan “ dan lain-lain. Aksara Karo ini digunakan untuk menuliskan bahan ramuan obat, mantra ilmu-ilmu gaib , ilmu tenun dan cerita-cerita. Umumnya tulisan itu dibuat pada kulit kayu, bambu dan tulang hewan. Jadi induk huruf terdiri dari dua huruf pada tulisan dan bunyi latin. Huruf –huruf Karo semuanya berbunyi akhir dengan “a”, kecuali pada induk “i” dan “u” .
















Refrensi :
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2011/05/sistem-pengetahuan-suku-karo.html

Lambang Tanah Karo











Uis Beka Buluh, Lambang kepemimpinan

BINTANG LIMA, Melambangkan bahwa suku Karo terdiri dari lima merga, kemudian dipadukan dengan tiang bambu yagn terdiri dari empat buah sehingga menyatu dengan tahun Kemerdekaan R.I

PADI, Melambangkan Kemakmuran yang terdiri dari 17 butir sesuai dengan tanggal kemerdekaan R.I

BUNGA KAPAS, Lambang keadilan sosial, cukup sandang pangan yagn terdiri dari 8 buah sesuai dengan bulan kemerdekaan R.I

KEPALA KERBAU, Melambangkan semangat kerja dan keberanian

TUGU BAMBU RUNCING, Melambangkan patriotisme dan kepahlawanan dalam merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan R.I

MARKISA, KOL dan JERUK, Melambangkan hasil pertanian spesifik Karo yagn memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat Karo

JAMBUR SAPO PAGE, Melambangkan sifat masyarakat Karo yagn suka menabung (tempat menyimpan padi)

UIS ARINTENENG, Lambang kesentosaan

RUMAH ADAT KARO, Melambangkan ketegaran seni, adat dan budaya Karo

Refrensi :
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2012/01/lambang-karo.html

Sejarah Singkat Desa Sugihen













Adapun jarak desa ini dari Ibu Kota Kecamatan Juhar ada sekitar 14 KM, dari Kota Kabupaten sekitar 41 Km dan 117 KM dari Ibu Kota Provinsi. Desa Sugihen secara keseluruhan memiliki luas sekitar 957 Ha, dengan batas-batas secara administratif sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan Desa Pertumbungen Kecamatan Munte dan Sungai (Lau Bengap) Sebelah Selatan berbatasan denggan Desa Bekilang Kecamatan Juhar Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nageri Kecamatan Juhar Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pernantin dan Desa Tigasiempat.
Ketika memasuki wilayah desa ini, akan dijumpai persimpangan yaitu simpang sugihen pernantin.

Memasuki wilayah pemukiman, akan dijumpai persimpangan yaitu simpang tiga atau biasa juga disebut warga simpang telu, dengan posisi menghadap kesebelah utara desa, simpang ke kanan adalah menuju wilayah barong (salah satu nama pemukiman warga) yang dapat juga menuju Desa Sukababo Kecamatan Munte. Dengan posisi posisi menghadap kesebelah selatan desa, simpang ke kiri adalah simpang yang menuju kesain berneh yang juga salah satu pemukiman penduduk atau biasa juga disebut rumah berneh.

Menurut cerita masyarakat sejarah desa mempunyai dua versi. Versi Pertama diawali dari silsilah Marga Ginting yaitu siwah sada Ginting (Ginting sugihen, Ginting Babo, Ginting Guru Patih, Ginting Suka, Ginting Beras, Ginting Bukit, Ginting Gara Mata, Ginting Ajar Tambun, dan Ginting jadi Bata). Ginting berasal dari kata genting (berbentuk guci). Pendiri (simanteki kuta) desa ini adalah bernama Sugihen dan bermarga Ginting, Sugihen adalah anak dari Tindang dan mempunyai delapan saudara laki-laki dan saeorang saudara perempuan. Pada akhirnya kesembilan saudara tersebut berpisah satu sama lain. Seiring dengan petengkaran tersebut kesembilan saudara tersebut menjadi terpisah dan mencari jalan masing-masing. Pada saat itu si Sugihen pergi kesuatu daerah yang belum ada penghuninya disana mendirikan sebuah perladangan di dekat tapin lau sang-sang (pancuran lau sang-sang). Beberapa lama kemudian ia mendirikan perkampungan dan tinggal menetap di desa ini sehingga pada seperti sekarang ini ia menamai desa ini dengan namanya sendiri yaitu Sugihen.

Versi Kedua hampir sama dengan versi pertama, hanya beda tempat, menurut cerita yang berkembang bahwa istri si Tindang menetas di penaperen yang berasal dari kata naper (menetas) yang merupakan nama sebuah perladangan yang terdapat di desa ini. Sugihen adalah pendiri desa ini ia bermaga Ginting. Seiring dengan terpisahnya kesembilan saudara tersebut si Sugihen memilih tetap tinggal di daerah ini dengan mendirikan perladangan. Beberapa lama kemudian ia mendirikan sebuah perkampungan dan menamainya dengan namanya sendiri.
Berdasarkan dua versi sejarah Desa Sugihen tersebut maka yang menjadi pemukiman sebelumnya penduduk pada awalnya adalah berada dirumah berneh yang salah satu menjadi pemukiman penduduk pada saat ini. Awalnya hanya beberapa rumah tangga dengan bentuk bangunan rumah adat (siwaluh jabu).

Refrensi :
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2012/07/sejarah-singkat-desa-sugihen.html

(Terbentuknya) Urung dan Sibayak dalam Pusaran Kolonialisme

Sistem kerajaan Melayu dan Simalungun sangat memuaskan kepentingan kolonial dan perkebunan asing, sehingga pejabat-pejabat Belanda di Sumatera Timur berusaha menciptakan sistem seperti itu di daerah lain yang belum memiliki sistem.

77.000 orang Karo (pada tahun 1930) yang tinggal di dataran tinggi di luar pengaruh Melayu pesisir sebelumnya hidup bebas dalam tata organisasi kemasyarakatan desa (kuta) nya sendiri. Unit sosial dasarnya adalah kesain (dukuh) yang jumlahnya sekitar 500 di seluruh Tanah Karo, banyak diantaranya menggelompokkan diri menjadi satu desa (kuta) yang dipimpin secara bersama-sama oleh penghulu dari setiap kesain.
Di daerah-daerah Toba, missi Kristen telah membantu Belanda memahami dam mencoba mengatasi ketiadaan bentuk pemerintahan ini. Kekuasaan Belanda memasuki Tanah Karo dari pesisr Timur dan memasuki Tapanuli (daerah orang Batak dan Mandailing) dari Barat.
Prinsip-prinsp agak berbeda diterapkan. Tanpa berbelit-belit pihak Belanda menyatakan, “penolakan terhadap kekuasaan yang dipunyai orang Karo dalam kadar yang begitu tinggi.... Sejak kekuasaan kita berdiri di Tanah Karo, kita telah berjuang untuk mengakhiri kekuasaan ganda ini, yang kenyataannya bukanlah suatu demokrasi melainkan anarki.”

Kekuasaan Belanda datang ke Tanah Karo secara mendadak pada 1904, dengan memakai rumus klasik pengerahan tentara untuk membalas permusuhan penduduk atas missi Kristen yang mulai bekerja di daerah itu.
Pemerintah kolonial segera membangun Urung, mengelompokkan desa-desa yang dipimpin oleh marga yang sama dan mengakui kepemimpinan satu desa induk. Ada 15 Urung yang diakui dan Belanda berusaha memerintah lewat penghulu desa induk seolah-olah ia adalah turunan raja.
Karena jumlah ini masih belum mencukupi, maka lima pemimpin yang berpengaruh diangkat sebagai sibayak yang memerintah dua atau lebih urung. Sibayak-sibayak inilah yang menandatangani Korte Verklaring dengan Belanda pada 1907.

Situasi yang berkaitan dengan peta kekuasaan saat itu memaksa Belanda untuk mengakui dua atau lebih kepemimpinan bersana di sistem baru ini pada tahun-tahun pertama. Dengan mendukung tokoh usianya yang paling panjang, maka pada tahun 1930 Belanda berhasil mendirikan dinasti pemerintahan yang terdiri dari sibayak dan raja urung yang seolah-olah berkuasa berdasarkan garis keturunan.
Kenyataannya, “Jika seseorang melihat bagaimana seorang sibayak atau raja urung disambut di setiap kesain, orang akan melihat betapa tipis kewibawaannya dan sebelumnya tentu lebih tipis lagi.”

Bangsawan-bangsawan buatan ini mendapatkan kekuasaannya bukan dari rakyat tapi dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Seorang sibayak digaji sekitar f2.400 setahun, lebih sedikit dari pada gaji raja-raja lain di Sumatera Timur tetapi ini tetap terhitung sangat mahal jika dilihat dari konteks  tradisional. 
Mereka duduk di pengadilan tertinggi, mereka bertanggung jawab atas ketertiban daerahnya dan putera-putera mereka mendapatkan pendidikan Belanda terbaik yang bisa didapatkan.
Meskipun demikian Belanda tidak mengalihkan kontrol atas tanah kepada aristokrat baru ini. Fakta ini, bersama dengan kebencian orang-orang Karo terhadap perkebunan tembakau asing yang timbul karena mendengar cerita pengalaman saudara-saudara sesukunya di dusun, menjamin tidak akan ada tanah yang dialihgunakan kepada perkebunan asing di Tanah Karo. Pada tahun 1930 ada pejabat-pejabat yang mendukung perlawanan Karo terhadap perkebunan-perkebunan dan dengan begitu keadaan mereka jauh lebih baik daripada Simalungun yang sudah mulai merasakan kekurangan tanah untuk penduduknya sendiri. 
Dalam hal lain Tanah Karo juga merupakan daerah yang unik di Sumatera Timur. Dengan dibukanya jalan raya Kabanjahe-Medan pada 1909, ekonomi Karo mulai lepas landas. Orang-orang Karo menyambut gembira kesempatan menanam sayur-sayuran yang akan dipasarkan di Medan dan Malaya. Dalam delapan tahun, mereka telah mengirim 340 ton kentang ke Medan pertahun dan ribuan gerobak yang ditarik lembu simpang siur di jalan-jalan rayanya. Sistem pertukaran barang dengan uang diterima dengan bergairah.
Bersamaan dengan itu, timbul permintaan tinggi akan pendidikan yang menghabiskan seluruh sumber daya Nederlandsche Zendingsgenoodschap (NZG), organisasi misi Kristen yang dipercaya untuk memberikan pendidikan pada orang-orang Karo. Sementara kampanye ekonomi berlanjut, membuat mereka menjadi petani yang mungkin paling sukses di Indonesia dari segi komersial, dalam beberapa tahun orang-orang Karo menolak unsur kebudayaan Barat yaitu agama Kristen dan pendidikan modren. 
Seorang sejarawan missi menuliskan, bahwa “selama priode 1920-an minat masyarakat Karo terhadap pendidikan berkurang drastis dengan tingkat ketidak hadiran di sekolah tercatat 80% atau lebih di sebahagian besar wilayah Karo.” Pada tahun 1942 tidak seorangpun orang Karo yang mengenyam pendidikan universitas.
Bagaimana kita menjelaskan rekasi yang ganjil terhadap dampak Barat ini, yang sangat berbeda dengan pengalaman di Toba? Tahun-tahun genting ketika orang-orang Karo menolak pendidikan gaya Belanda tampaknya bersamaan dengan perang Dunia Pertama. Beberapa kemungkinan penyebabnya bisa disimpulkan sebagai berikut :
1. rasa curiga yang terus menerus terhadap maksud Belanda yang bermula dari Perang Batak (perang sunggal-red) tahun 1874 dan penaklukannya tahun 1904.
2. beban pajak yang meningkat tajam setelah Belanda berkuasa, khususnya pada tahun 1914 ketika tarif pajak naik tiga kali lipat. Pada masa 1920-an dan 1930-an, pajak per kapita yang dibayarkan orang karo lebih banyak dari pada orang-orang Indonesia lainnya di Sumatera Timur, meskipun umumnnya orang-orang Karo ini juga lebih kaya. 
3. sampai tahun 1920-an gubernemen memilih untuk memberikan subsisi kepada sekolah-sekolah missi NZG untuk orang Karo di dataran tinggi dan dusun daripada mendukung kurikulum sekuler yang diberikan di daerah berpenduduk muslim. Pada 1919, sebuah laporan menyampaikan :

“Secara umum, terlepas dari kehausan pengetahuan dikalangan Karo, pendidikan yang diberikan missi tidak dapat disebut populer, sehingga di dataran tinggi orang sering menjumpai anak-anak yang tidak pergi ke sekolah tetapi berusaha mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang penting dari seorang krani atau juru tulis....... Terlampau banyak pelajaran wajib yang terlampau cepat diajarkan juga mempunyai pengaruh yang tidak baik. Orang tua murid dikenakan denda 10 sen untuk setiap kali anaknya bolos sekolah, yang seringkali mencapai jumlah yang lebih besar.... pada 1913 sekitar 1.300 anak pergi ke sekolah di dataran tinggi dan jumlah ini merosot sampai tinggal 600 dua tahun kemudian..”
Meskipun hanya ada sedikit perlawanan bersenjata di Tanah Karo sesudah tahun 1904 (setelah padamnya Perang Sunggal-red) dan pembukaan sekolah-sekolah pemerintahan yang “netral” pada 1920-an ternyata tidak begitu ditolak, rasa curiga orang Karo terhadap maksud Belanda tetap kuat. Baru setelah merdeka orang Karo meletakkan pendidikan dalam agendanya untuk mencapai modrenisasi. Dalam pergolakan tahun 1940-an orang Karo muncul sebagai pendukung revolusi melawan Belanda yang paling bergairah.
Di masyarakat Karo sendiri, walaupaun perbedaan-perbedaan sosialnya tidak begitu kentara jika dibandingakan dengan masyarakat melayu atau Simalungun, ketegangan mewarnai masuknya irigasi di beberapa daerah. Sebagian besar dataran tinggi Karo sangat sulit dialiri irigasi karena jurang-jurangnya sangat dalam. Meskipun demikian, mulai sekitar 1920 suatu daerah yang dialiri irigasi berangsur-angsur dibangun dengan saluran-saluran yang rumit di bagian statelet Lingga yang mencakup desa-desa besar Batu Karang, Tiga Nderket dan Payung. Ketiga desa ini tekah menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi, Batu Karang juga pernah menjadi pusat perlawanan Belanda pada tahun 1904.
sawahlandschap bij Pajung en Batukarang
Date 1914-1921
Source Tropenmuseum
Author niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)
Dengan meningkat pesatnya nilai sawah, maka pemilikan kolektif tanah yang tradisional tidak berlaku lagi, meskipun pengairan sawah dilakukan bergotiong royong oleh penduduk desa (kuta). Umumnya, setiap keluarga mendapatkan satu bidang tanah, sedangkan tiga bidang di setiap desa diberikan kepada penghulu dan raja urung dan dua bidang diberikan kepada sibayak.
Ini memungkinkan beberapa bangsawan mengumpulkan kekayaan berupa tanah hingga mencapai jumlah yang luar biasa. Raja urung Batu Karang disebut telah mengumpulkan 40 hektar sawah. Konsep pemilikan perseorangn atas tanah yang dikerjakan secara tetap adalah sesuatu yang baru dalam kehidupan mereka.
Konsep ini kemudian memicu persengketaan yang terus menerus, bahkan sampai tahun 1930-an. Pada tahun 1940-an, protes-protes yang lebih keras terjadi sehingga akhirnya para bangsawan Karo ini kehilangan seluruh sawahnya. 
Peristiwa Batu Karang
Pada tahun 1936, seoarang kepala kampung di Sebanyaman dihukum satu tahun penjara karena menghasut sesama orang Karo menolak membayar pajak dan melakukan herendienst.
Bersambung....
SumberSumatera, Revolusi dan Elite Tradisional (halaman 83-89) karangan Anthony Reid, terbitan Komunitas Bambu, 2011
Sibayak-sibayak yang diangkat pada tahun 1907 yaitu :

1. Pa Terang dan Pa Sendi, Sibajaks  van Lingga. 
Wilayah yang dikuasai : Lingga en Onderhoorigheden.
Tanggal laporan : 11 September 1907.
Tanggal keputusan, yang pernyataan disetujui dan disahkan kepala daerah, diakui dan dikonfirmasi : 20 December 1907.
2. Pa Tempana dan Pa Oendjoekan. Sibajaks van Baroe Djahé. 
Wilayah yang dikuasai : Baroe Djahé en Onderhoorigheden.
Tanggal laporan : 12 September 1907.
3. Pa Noensang, Sibajak van Soeka. 
Wilayah yang dikuasai : Soeka en Onderhoorigheden.
Tanggal laporan : 13 September 1907.
4. Si Ngabah dan Si Napa, Sibajaks van Sarimembah. 
Wilayah yang dikuasai : Sarimembah en Onderhoorigheden.
Tanggal laporan : 12 September 1907.
5. Si Naboeng dan Si Andem, Sibajaks van Koeta Boeloeh
Wilayah yang dikuasai : Koeta Boeloeh en Onderhoorigheden.
Tanggal laporan : 13 September 1907.

Refrensi :
  1. http://karosiadi.blogspot.com/2012/07/terbentuknya-urung-dan-sibayak-dalam.html

Kerja Tahun,Tradisi Pada Masyarakat Karo

















Masyarakat Karo adalah masyarakat pedesaan yang sejak dahulu mengandalkan titik perekonomiannya pada bidang pertanian. Tanaman padi adalah salah satu tanaman
penting, yang selain mengandung makna ekonomi juga memiliki keterkaitan terhadap unsur religi dan sosial. Panggilan khusus terhadap tanaman padi yaitu Siberu
Dayang menunjukkan penghargaan tersebut. Selain sebagai bahan pangan pokok, kekuatan ekonomi juga merupakan lambang prestise bagi masyarakat. Ukuran dan volume lumbung padi berpengaruh
terhadap tolak ukur keberadaan seseorang. Maka agar hasil yang diperoleh cukup memuaskan, semua proses penanaman dari awal hingga akhir harus diberikan
penghargaan dan disyukuri dengan harapan mencapai hasil yang baik.

Pada masa lalu proses penanaman padi dilakukan setahun sekali. Proses awal hingga akhir membutuhkan upacara agar berhasil dengan baik. Hal ini sesuai dengan
magis animistis pada masyarakat yang menganut ajaran Pemena. Upacara-upacara tersebutlah yang mendasari terselenggaranya kerja tahun pada masyarakat Karo.

Kerja tahun dapat diartikan sebagai pesta yang diselenggarakan masyarakat setahun sekali. Kata “kerja” bermakna pesta dalam bahasa Karo. Kerja tahun ini
berdasarkan pada kegiatan pertanian tanaman padi. Terdapat perbedaan pelaksanaan pada beberapa daerah, di mana masing-masing lebih memfokuskan pada fase tertentu dari
pertumbuhan padi untuk merayakannya. Ada yang merayakan di masa awal penanaman, pertengahan pertumbuhan, ataupun masa panen.


Ginting (1999: 175-180), merumuskan nama kerja tahun di Karo sebagai berikut:
1. Merdang Merdem
Kerja tahun yang dilaksanakan saat dimulainya proses penanaman padi. Diawali dari penyemaian benih sampai ditanamkan di ladang (merdang). Kerja tahun ini biasanya dilakukan di daerah Tiga Binanga dan Munthe.

2. Nimpa Bunga Benih
Sering juga disebut “ngamburngamburi”. Dilakukan ketika tanaman padi sudah berdaun (erlayuk, ersusun kulpah), yaitu berusia sekitar dua bulan. Hal ini biasa dilakukan di sekitar wilayah Kabanjahe, Berastagi, dan Simpang Empat.

3. Mahpah
Tradisi ini dilakukan ketika tanaman padi mulai menguning. Pelaksanaan kerja tahun ini dilakukan di sekitar wilayah Barus Jahe dan Tiga Panah.

4. Ngerires
Kerja tahun dilaksanakan ketika padi telah dipanen, sebagai ucapan syukur atas hasil yang diterima. Pelaksanaan tradisi ini biasa dilakukan di daerah Batu Karang


Semua acara di atas dilakukan sesuai kepercayaan “pemena” dengan tata cara dan perlengkapan tertentu yang berbeda di setiap fase dan daerah. Selain hal di atas, kerja tahun juga memiliki fungsi lain yaitu mempererat ikatan kekerabatan. Saat kerja tahun, seluruh anggota keluarga berkumpul, termasuk yang dari luar daerah. Hal ini dimanfaatkan untuk sarana pulang kampung, mengunjungi para kerabat, melepas rindu, membicarakan hal-hal yang penting di tengah keluarga, sarana perjodohan putera dan puteri mereka juga untuk hiburan.

Sejalan dengan perkembangan waktu, terjadi perubahan di tengah-tengah masyarakat. Perekonomian masyarakat yang bersifat pertanian subsistensi bergeser kepada tanaman yang berorientasi pada kebutuhan pasar. Tanaman padi sudah mulai jarang ditanam, digantikan dengan tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan. Selain itu terjadi sikap yang lebih rasional atas konsep-konsep yang bersifat supranatural. Hal ini dipengaruhi oleh penyebaran agama, pendidikan serta
perkembangan teknologi di tengah kehidupan masyarakat. Kontak dengan masyarakat lain, seperti pendatang yang bermukim ke daerah-daerah komonitas Karo, maupun
transformasi masyarakat Karo menuju luar daerahnya turut mempengaruhi hal tersebut. Namun tradisi kerja tahun tetap berjalan

Antusias masyarakat untuk menyelenggarakan kerja tahun tetap saja besar, walaupun membutuhkan persiapan waktu, biaya dan tenaga kerja. Antusias tersebut tidak hanya pada masyarakat di desa namun juga yang sudah bermukim di luar. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa acara ini tidak pernah terlewatkan di setiap tahun serta tetap saja terjadi arus mudik masyarakat untuk menghadirinya.

Masyarakat Karo seperti masyarakat lainnya tentu mengalami dinamika yang mangakibatkan terjadinya perubahan-perubahan. Kerja tahun sebagai tradisi yang
merupakan kekayaan budaya masyarakat tetap dapat bertahan dalam artian bahwa pelaksanaan yang tetap rutin dilaksanakan pada setiap tahun. Namun sejalan dengan perubahan dalam masyarakat, harus diyakini bahwa telah terjadi proses adaptasi terhadap kondisi-kondisi di atas. Sangat memungkinkan bahwa faktor ekonomi dan religi yang menjadi konteks dan fungsi primer pelaksanaannya sudah bergeser bahkan tidak ditemukan lagi dalam pelaksanaan kerja tahun tersebut. Bahkan konteks dan fungsi lain yang sudah lebih dominan, seperti hiburan, prestise, dan sebagainya yang mewarnai pelaksanaannya.

Refrensi :
  1. http://silima-merga.blogspot.com/2012/07/kerja-tahun-tradisi-pada-masyarakat.html

Harga Diri Dibayar Darah

Belajar pada masa lalu itu bijak, agar kita sadar bahwa kita adalah produk dari sebuah masyarakat yang berjalan, produk dari sebuah budaya itu sendiri dan dipengaruhi oleh waktu yang melaju bersama interaksi dengan masyarakat luar lainnya. Dan ketika menemukan kabar lama yang menyakitkan, kita harus mampu berucap :
"Horeee... aku menemukan akar penyebab penyakit di kekinian."
Berikut kabar lalu tentang masyarakat Karo yang katanya : "Selain beradat, suka menolong, hemat, dan pengasih, mereka juga pendendam dan tahu harga diri".


13 Agustus 1988
Tempointeraktif.com
Umbul-umbul, dipacangkan di sebuah lapangan, di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Itulah pertanda akan berlangsung pertarungan dua laki-laki. Penduduk membentuk lingkaran, menonton kedua pria yang siap turun berlaga dengan tangan kirinya terikat seutas tali satu sama lain. Lali, seorang pengetua adat, setelah berpidato singkat, menyerahkan pisau kepada kedua jagoan. dengan pisau di tangan, keduanya mengangkat sumpah : "Pinter bilang ku Dibata" (lurus perhitungan kepada Tuhan). Artinya, cuma Tuhan yang tahu, siapa yang benar di antara mereka. Setelah aba-aba pertarungan dimulai, tikam menikam pun terjadi.

"Biasanya," kata Moderamen (pucuk pimpinan) Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Ds. A. Ginting Suka, "seseorang dari mereka mati". Dan penonton mempercayai, yang bersalah adalah yang mati.

"Jika keduanya tewas, maka keduanya memang dianggap bersalah," kata P. Antonius Sitepu, dosen Fisipol Universitas Sum-Ut (USU), kepada TEMPO. Duel maut semacam itu, secar adat, pernah menjadi pilihan terakhir untuk menyelesaikan perselisihan. Ini ditempuh jika musyawarah keluarga, kerabat, dan lembaga adat tidak mampu mendamaikannya. Pembunuhan terjadi, kata Ginting Suka, biasanya karena harga diri seseorang tersinggung.

Upacara Sar-sar Lambe, duel untuk mencari yang bersalah tersebut, telah dihapus sejak zaman Belanda. Pemancangan umbul-umbul di lapangan untuk mengadili "siapa yang salah dan benar" dengan duel maut semacam itu juga sudah tidak ada lagi. Namun, mengutip kesimpulan Seminar Adat-Istiadat Karo awal 1977, masyarakat di kabupaten itu agaknya punya sifat menonjol: "Selain beradat, suka menolong, hemat, dan pengasih, mereka juga pendendam dan tahu harga diri".


Dengan kata lain, menurut sumber TEMPO di Polres Tanah Karo, sebagai masyarakat di wilayah itu, sampai sekarang, termasuk gampang tersinggung. Beberapa kasus menunjukkan, karena merasa tersinggung dan terhina, mereka tidak segan-segan menjatuhkan korban untuk mencari siapa yang benar. Korbannya sering keluarga sendiri seperti ayah, ibu, anak atau saudara kandung.

Bertolak dari sifat semacam itu, Elya Ras Ginting -- untuk skripsinya di FH USU -- mencoba menelusuri alasan mengapa masyarakat didaerah itu gampang main bunuh. Dari 16 responden di rumah tahanan Polres Kabanjahe, Karo, yang diwawancarainya, semua menjawab, "terpaksa membunuh karena dendam yang dipendam yang dipendam akibat sakit hati". Dendam merupakan faktor paling dominan yang mendorong mereka saling membunuh," kata gadis mungil itu.

Elya mencatat, sepanjang 1982-1986, terjadi 54 pembunuhan. Tahun 1987 ada 8 kali dan tahun ini, sampai Juli 1988, terjadi 5 kali pembunuhan. "Delapan puluh persen dari jumlah itu adalah pembunuhan keluarga," kata Lettu. P.R. Pakpahan, Kasatserse Polres Tanah Karo. Misalnya kisah pembantaian Sambar Perangin-angin 1986. Pelcik Ginting, 54 tahun, dan isterinya Ngaku beru Karo-Karo beserta anaknya Sinton bersepakat membunuh menantunya, Sambar. Tujuannya sekadar ingin mendapatkan kembali setengah hektar kebun yang diserahkan kepada korban lima tahun sebelumnya.

Penyebabnya cuma sepele. Pelcik tersinggung gara-gara menantunya itu menanam cengkih di lahan kebun pemberiannya. Padahal, Sambar, katanya, pernah berjanji hanya akan menanam palawija. Untuk membakar amarah keluarga, mereka bertiga membuat skanario bahwa Sambar telah memperkosa isteri Sinton, Sehmawati beru Sitepu. Anak-anak Pelcik yang lain berang dan tersinggung karena "aib" telah menodai keluarganya. Akhirnya, Sambar dibantai oleh saudara iparnya.

Contoh lain Kita beru Ginting, 51 tahun, dan anaknya Tulis Tarigan, warga Desa Kutambelin, Kecamatan Simpang Empat, Karo. Mereka pernah merancang menghabisi Pentar Tarigan karena suka mengompas dan menyiksa ibu dan saudaranya. Gigi depan ibunya rompal dihajar Pentar setiap kali minta duit. Pernah sekali ibunya dicekik. "Kami sakit hati, tapi tak berani membunuh Pentar," kata Tulis kepada TEMPO.

Untuk membalas sakit hatinya, Tulis minta jasa abang sepupuhnya, Berani Tarigan. Dengan modal Rp 280 ribu dari Tulis, Berani mengajak Pentar jalan-jalan ke Medan. Di kota itu, ia dibunuh dengan racun monyet. Agaknya, sikap gampang main bunuh itu banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tekanan hidup, pengetahuan yang kurang, dan iman keagamaan yang dangkal. Mungkin, seperti diimbau oleh Ginting Suka, mereka perlu segera meninggalkan sifat kurang baik itu.

Refrensi :
  1. http://karosiadi.blogspot.com/2010/11/harga-diri-dibayar-darah.html

Tentang Pa Mbelgah

Pa Mbelgah
Oleh Ita Kaban

Dalam buku “Sejarah Karo dari zaman ke zaman” karya Brahma Putro (Kongsi Brahmana) terbitan tahun 1979, pada jilid ke-3 (dari 5 jilid) ada dituliskan riwayat Pa Pelita Purba dan Pa Mbelgah Purba. Berikut sekelumit kisah dari beberapa halaman dari buku tersebut :
Dalam tahun 1895 sepasukan Laskar Simbisa dari Urung XII Kuta Kabanjahe pimpinan Sibayak Pa Mbelgah dan Sibayak Pa Landas, turun ke Liang Muda, membantu rakyat yang sedang melawan Kompeni Belanda dan tentara Sultan Serdang.
Lalu terjadi voorcontak antara pasukan Sibayak Pa Mbelgah dengan tentara Sultan Serdang dan militer Belanda. Pertempuran berlangsung beberapa hari dengan serunya. Di Liang Muda, ada sampai sekarang tumbuh sepohon kayu ‘Cingkam’, separoh batangnya sebelah atas sudah putus karena gencarnya tembakan-tembakan pasukan Sibayak Pa Mbelgah.
Mengenai Perang Liang Muda ini, T.Lukman Sinar , SH menerangkan dalam bukunya “Sari Sejarah Serdang”, antara lain sebagai berikut :
“Di dalam tahun 1895 terjadi suatu perselisihan di antara perbapaan (kepala daerah dusun) Liang dengan perbapaan dari Bakbak (Bahbah BP), dimana yang pertama ini di pimpin oleh seorang petualang dari Tanah Karo yang bernama Pa Mbelgah ….

Pa Mbelgah
Nama Sibayak Pa Mbelgah raja besar dari Tanah Tinggi Karo itu, sangat termashur di daerah Sinambah Tanjung Muda Hulu dan HIlir, di Deli, Langkat Hulu. Kegagahan, keperkasaan serta kewibawaan Sibayak Pa Mbelgah tidak ada tandingannya dalam raja-raja di Karo di waktu itu, namun suatu sesalan sejarah telah terlukis olehnya, karena menjelang akhir tahun 1902 Sibayak Pa Mbelgah yang gagah perkasa dan saudaranya Sibayak Pa Pelita yang ulung berdiplomasi itu, bekerjasama dengan pihak pemerintah Belanda.

Rumah Pa Mbelgah
Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda dapat memahami dan mengerti tentang psikologi orang Karo yang berwatak orisinil, kepala batu, pantang dihina oleh siapapun. Tetapi dibalik itu hatinya berdenyut selembut kapas putih, bila mana orang-orang berbuat baik, dan cepat mengerti. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas jajahannya , memakai dua sistem siasat. Satu dengan kekerasan senjata, dan satu sistem lagi dengan cara menebarkan ajaran kerohanian, terutama ajaran Calvinis atau Lutheran. Menebarkan ajaran kerohanian dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukan kedua raja besar tersebut.
Selanjutnya K.S. Depari menulis sebagai berikut :
“Rupanya Pa Pelita dan Pa Mbelgah ini adalah pendekar dan pejuang yang selalu menyesuaikan langkah kepada kondisi dan situasi. Selama lebih kurang 10 tahun (1894-1904), trio Pa Mbelgah, Pa Pelita dan Westenberg menurut cara masing-masing menentukan “perang atau damai” di Tanah Karo gunung dan dusun. Pa Mbelgah dan Pa Pelita dari marga Karo-karo Purba keduanya adalah Sibayak Kabanjahe tapi “rivalen” yang satu tidak mengakui keunggulan yang lain. Yang pertama adalah seorang panglima, yang kedua orator dan politikus. Pertentangan antara Sibayak Pa Pelita dan Sibayak Pa Mbelgah adalah suatu jalan dan dalih bagi pemerintah kolonial Belanda masuk ke Tanah Tinggi Karo, untuk mendamaikannya, katanya.
Mengenai trio Sibayak Pa Mbelgah , Sibayak Pa Pelita , Westenberg yang disebutkan mulai tahun 1894-1904, hal ini perlu diselidiki kembali, karena dalam tahun 1895 pasukan-pasukan Sibayak Pa Mbelgah masih berada dalam front pertempuran melawan pasukan Sultan Serdang dan Militer Belanda di Liang Muda Serdang Hulu sebagaimana yang diuraikan oleh Tengku Lukman Sinar, SH dalam bukunya Sari Sejarah Serdang. Kemungkinan sekali setelah terjadi Perang Liang yang termasyur itu (1895) barulah beberapa tahun kemudian menjelang tahun 1902, terjadi trio Sibayak Pa Mbelgah, Sibayak Pa Pelita dan Westenberg .
Menurut M.Muhammad Said dalam harian Waspada 28 April 1973, sebagai berikut :
“Atas fasilitas perkebunan dan pembesar Belanda di Medan dan diawal tahun 1908, Pdt. Guillaume sudah berada di wilayah tersebut dan ia rupanya sudah demikian mujur karena telah berhasil membujuk dua orang raja (Sibayak) di tanah Karo, yakni Pa Pelita dan Pa Mbelgah untuk membolehkannya membuka rumah ibadat (gereja) disana. Berdasarkan persetujuan tersebut, Guillaume mulailah membangun “markasnya” di Kabanjahe. Tapi Tanah Karo bukanlah dimiliki dua Sibayak ini, banyak raja disana semuanya mereka kecuali yang dua ini, menentang masuknya pengembangan agama Kristen (dengan cara seperti ini sekaligus menentang ekspansi kolonialisme Belanda).


Catatan tambahan:
Menurut buku Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo 1890-2000 karya Dk.Em.P.Sinuraya, kabar baik mulai melanda masyarakat Karo pada tahun 1890 yang bermula dari Karo Jahe. Di dalam buku yang ditulis Dk.Em.P.Sinuraya tersebut, dikisahkan pada tahun 1911 masyarakat Karo di Kaban Jahe telah dibaptis sebanyak 70 orang, salah satu tokoh Karo terkenal yang ikut dibaptis adalah Sibayak Pa Mbelgah (Sibayak Rumah Kaban Jahe).
Namun sangat disayangkan Sibayak Pa Mbelgah tak lama kemudian keluar dari gereja karena ada perbedaan/pertentangan pendapat antara Pa Mbelgah dengan pendeta. Pada waktu itu sebagai raja ketika menerima tamu undangan biasanya disambut dengan gendang dan menari sebagai penghormatan terhadap tamu tersebut.

Ketika kebiasaan tersebut ditanyakan Pa Mbelgah kepada pendeta apakah dibolehkan atau tidak, pendeta menjelaskan tidak boleh karena gendang tersebut dianggap mengandung unsur kekafiran, dan unsur kekafiran tidak boleh dikawinkan dengan agama Kristen. Sangat disayangkan P.Sinuraya tidak menulis apa yang dimaksud dengan unsur-unsur kekafiran tersebut.



Refrensi:
  1. http://karosiadi.blogspot.com/2011/11/tentang-pa-mbelgah.html
  2. http://silima-merga.blogspot.com/2010/10/penginjilan-di-tanah-karo.html