Powered By Blogger

Senin, 11 Maret 2013

Sejarah dan Makna Filosofi Seni Tari Karo

Sejarah dan Makna Filosofi Seni Tari Karo 
       Bagi masyarakat Karo, dikenal istilah uga gendangna bage endekna, yang artinya bagaimana musiknya, harus demikian juga gerakannya (endek). Endek diartikan disini tidak sebagai gerakan menyeluruh dari anggota badan sebagai sebagaimana tarian pada umumnya, tetapi lebih ditekankan kepada gerakan kaki saja. Oleh sebab itu endek tidak dapat disamakan sebagai tari, meskipun unsur tarian itu ada disana. Hal ini disebabkan konsep budaya itu sendiri yang memberi makna yang tidak dapat diterjemahkan langsung kata per kata. Karena konsep tari itu sendiri mempunyai perbedaan konsep seperti konsep tari yang dalam berbagai kebudayaan lainnya. Konsep endek harus dilihat dari kebudayaan karo itu sendiri sebagai pemilik kosa kata tersebut.

Konsep-konsep seperti ini juga dapat kita lihat pada istilah musik bagi masyarakat Karo. Pada masyarakat Karo tidak dikenal istilah musik, dan tidak ada kosa kata musik, tetapi dalam tradisi musik kita mengenal istilah gendang yang terkait dengan berbagai hal dalam ‘musik’ atau bahkan dapat diterjemahkan juga sebagai musik. Bagi masyarakat Karo gendang bermakna jamak, setidaknya gendang mempunyai lima makna,
  1. Gendang sebagai ensambel musik, misalnya gendang lima sedalanen, gendang telu sedalanen dan sebagainya;
  2. Gendang sebagai repertoar atau kumpulan beberapa buah komposisi tradisional, misalnya gendang perang-perang, gendang guru dan sebagainya;
  3. Gendang sebagai nama lagu atau judul lagu secara tradisional, misalnya gendang simalungen rayat, gendang odak-odak, gendang patam-patam (yang juga terkadang sebagai cak-cak atau style) dan sebagainya;
  4. Gendang sebagai instrument musik, misalnya gendang indung, gendang anak; dan
  5. Gendang sebagai upacara, misalnya gendang guro-guro aron, dan sebagainya. Konsep seperti ini juga berlaku bagi tarian.

Endek dapat diartikan sebagai gerakan dasar, yaitu gerakan kaki yang sesuai dengan musik pengiring (accompaniment) atau musik yang dikonsepkan pada diri sipenari sendiri, karena ada kalanya juga gerakan-gerakan tertentu dapat dikategorikan sebagai tarian, namun tidak mempunyai musik pengiring. Kegiatan menari itu sendiri disebut dengan landek, namun untuk nama tari jarang sekali dipakai kata landek, jarang sekali kita pernah mendengar untuk menyebutkan landek roti manis untuk tari roti manis atau tarian lainnya. Malah lebih sering kita dengar dengan menggunakan istilah yang diadaptasi dari bahasa Indonesia yaitu ‘tari’, contohnya tidak menyebut Landek Lima Serangke, tapi Tari Lima Serangke. Landek langsung terkait dengan kagiatan, bukan sebagai nama sebuah tarian.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam tari karo, yaitu endek (gerakan naik turun kaki), jole atau jemole, yaitu goyangan badan, dan tan lempir, yaitu tangan yang gemulai, lembut. Namun disamping itu bagaimana ketiga unsur tersebut dapat diwujudkan dalam gerakan-gerakan tari, terkait dengan musik pengiring itu sendiri dan dalam konteks tarian itu sendiri, misalnya dalam tarian adat, muda-mudi, khusus, dan sebagainya.

Gerakan dasar tarian Karo dibagi atas beberapa style yang dalam bahasa Karo disebut dengan cak-cak. Ada beberapa cak-cak yang dikenal pada musik Karo, yang terkait dengan gaya dan tempo sekaligus, yaitu yang dimulai dari cak-cak yang sangat lambat sampai kepada cak-cak yang relative cepat, yaitu antara lain yang lazim dikenal adalah:
  • Cak-cak simalungen rayat, dengan tempo lebih kurang 60 – 66 jika kita konversi dalam skala Metronome Maelzel. Apabila kita buat hitungan berdasarkan ketukan dasar (beat), maka cak-cak ini dapat kita kategorikan sebagai cak-cak bermeter delapan. Artinya pukulan gung dan penganak (small gong) sebagai pembawa ketukan dasar diulang-ulang dalam hitungan delapan;
  • Cak-cak mari-mari, yang merupakan cak-cak yang lebih cepat dari cak-cak simalungen rayat. Temponya lebih kurang 70 hingga 80 per menit;
  • Cak-cak odak-odak, yang merupakan cak-cak yang temponya lebih kurang 90 – 98 per menit dalam skala Maelzel.
  • cak-cak patam-patam, merupakan cak-cak kelipatan bunyi ketukan dasar dari cak-cak odak-odak, dan temponya biasanya lebih dipercepat sedikit antara 98 sampai 105. Endek kaki dalam cak-cak ini merupakan kelipatan endek dari cak-cak odak-odak.
  • Cak-cak gendang seluk, yaitu cak-cak yang sifatnya progressif, semakin lama semakin cepat, yang biasanya dimulai dari cak-cak patam-patam. Jika dikonversi dalam skala metronome Maelzel, kecepatannya bias mencapai 160-an, dan cak-cak silengguri, biasanya cak-cak ini paling cepat, karena cak-cak ini dipakai untuk mengiringi orang yang intrance atau seluk (kesurupan).

Sejarah dan Makna Filosofi

Berbicara tentang sejarah seni tari Karo, maka kita akan dihadapkan pada kajian folklore, karena tidak ada tanggal-tanggal yang pasti diketahui kapan munculnya tarian Karo. Tetapi pada umumnya tari yang unsur dasarnya adalah gerak dapat kita temui dalam ritus-ritus dan upacara-upacara tradisional yang ada pada masyarakat Karo. Dengan demikian makna dari setiap gerakan-gerakan mempunyai makna dan filosofi tergantung jenis tarinya. Meskipun demikian ada beberapa hal yang terkait dengan tari karo, misalnya gerakan tangan yang lempir, pandangan mata, endek nahe, b ukan buta-buta. Disamping itu juga makna gerakan-gerakan tangan juga mempunyai makna tersendiri.

Ada beberapa makna dari gerakan tari Karo berupa perlambangan, yaitu:
  • Gerak tangan kiri naik, gerak tangan kanan ke bawah melambangkan tengah rukur, yaitu maknanya selalu menimbang segala sesuatunya dalam bertindak;
  • Gerakan tangan kanan ke atas, gerakan tangan kiri ke bawah melambangkan sisampat-sampaten, yang artinya saling tolong menolong dan saling membantu;
  • Gerakan tangan kiri ke kanan ke depan melambangkan ise pe la banci ndeher adi langa si oraten, yang artinya siapa pun tidak boleh dekat kalau belum mengetahui hubungan kekerabatan, ataupun tidak kenal maka tidak saying;
  • Gerakan tangan memutar dan mengepal melambangkan perarihen enteguh, yang artinya mengutamakan persatuan, kesatuan, dan musyawarah untuk mencapai mufakat; gerakan tangan ke atas, melambangkan ise pe labanci ndeher, artinya siapapun tidak bias mendekat dan berbuat sembarangan;
  • Gerakan tangan sampai kepala dan membentuk seperti burung merak, melambangkan beren rukur, yang maknanya menimbang sebelum memutuskan, piker dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna;
  • Gerak tangan kanan dan kiri sampai bahu, melambangkan baban simberat ras menahang ras ibaba, yang bermakna ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Artinya mampu berbuat mampu bertanggung jawab dan serasa sepenanggunan gerakan tangan dipinggang melambangkan penuh tanggung jawab;
  • dan Gerakan tangan kiri dan tangan kanan ke tengah posisi badan berdiri melambangkan ise per eh adi enggo ertutur ialo-alo alu mehuli, artinya siapapun yang dating jika sudah berkenalan dan mengetahui hubungan kekerabatan diterima dengan baik sebagai keluarga (kade-kade).

Jenis-jenis Tarian Karo

Tari Komunal
Yang termasuk dalam tarian ini pada masyarakat Karo terdapat beberapa macam yang terkait dengan upacara-upacara adapt misalnya dalam upacara-upacara adat dan peranan-peranan social dalam adapt itu sendiri yang terbagi dalam kelompok-kelompok social tertentu yang sesuai dengan filosofi adapt Karo ‘merga si lima, tutur si waluh, rakut si telu’ Secara kelompok social dapat dibagi menjadi: landek kalimbubu (masih dapat dikelompokkan lebih spesifik lagi); landek sukut (senina, sembuyak, siparibanen, sepengalon, siparibanen, sigameten); landek anak beru dan sebagainya. Juga dalam jenis tari komunal ini masih terdapat bebrapa jenis tarian, misalnya dalam acara guro-guro (acara muda-mudi). Dalam acara ini juga terdapat kelompok-kelompok tarian komunal yang dibagi berdasarkan merga atau beru, tergantung daerahnya. Namun biasanya didahului oleh merga simantek kuta atau orang yang pertama sekali menempati wilayah tertentu dimana upacara tersebut berlangsung, atau biasa juga disebut dengan kalimbubu taneh. Adapun jenis-jenis tarian untuk kategori ini adalah dapat kita temukan dalam upacara-upacara:
kerja erdemu bayu (perkawinan)
merdang merdem atau kerja tahun (upacara pertanian)
nurun-nurun (upacara kematian)
guro-guro aron (muda-mudi)
ersimbu (upacara memanggil hujan), atau biasa juga disebut dengan dogal-dogal
mengket rumah mbaru (meresmikan rumah baru)
ngukal tulan-tulan (menggali tulang)
ngalo-ngalo, dll.

Tari Khusus
Jenis-jenis tarian ini terkait dengan hal-hal yang sifatnya khusus dan bukan bersifat umum, yaitu yang berhubungan dengan dengan peranan seseorang, misalnya:
  1. Gendang guru (dukun)
  2. Seluk (trance)
  3. Perumah begu (memanggil roh)
  4. Erpangir ku lau (keramas, bathing ceremony)
  5. Perodak-odak
  6. Tari tungkat
  7. Tari baka

Tari Tontonan
  1. Perkolong-kolong (permangga-mangga)
  2. Mayan atau Ndikkar (seni bela diri khas Karo)
  3. Tari Kuda-Kuda (Simalungun: Hoda-Hoda)
  4. Gundala-gundala (Tembut-tembut Seberaya)

Tari Kreasi Baru
  1. Tari roti manis
  2. Tari terang bulan
  3. Tari lima serangke
  4. Tari telu serangke,
  5. Tari uis gara, dll.

Tari Sigundari, yaitu tari-tarian yang diciptakan berdasarkan lagu-lagu popular Karo, termasuk gendang kibot.

Fungsi Tarian Karo
  • Penghayatan estetis
  • Pengungkapan emosional
  • Hiburan
  • Komunikasi
  • Fungsi perlambangan
  • Reaksi jasmani
  • Berkaitan dengan norma-norma social
  • Pengesahan lembaga social atau status social tertentu
  • Keseinambungan kebudayaan
  • Pengintegrasian masyarakat
  • Pendidikan



    Refrensi         : 1.http://www.facebook.com/groups/kalakkaro/permalink/507227252652920/
                           2.http://www.facebook.com/trgans

Selasa, 26 Februari 2013

Rapper Generasi Muda Tanah Karo Berkarya

Seiring dengan Perkembangan Zaman yang semakin Modern, Industri Musik di daerah Tanah Karo juga Semakin Maju....

            Dimana,Industri Musik di Tanah Karo Sekarang Ini sudah Banyak Mengalami peningkatan. Mulai dari Munculnya musik dengan Aliran Pop, Rock, Remix, Funky Remix, RAP/Hip-Hop....
dan Sekarang Ini juga Banyak Rapper Tanah Karo Merilis Album mereka, mulai dari lagu khas daerah Karo sendiri dan juga ada lagu Indonesia.
     
Adapun Rapper dari Tanah Karo Tersebut Adalah :

   - Amsal Christy Sitepu
   - Ferly Ginting
   - Ronald Surbakti

Apabila Anda Ingin Mendengarkan Lagu Rap/Hip-Hop dari Mereka,maka Anda dapat Mendengar atau pun mendownload nya secara langsung di situs dibawah ini :

    1. http://www.reverbnation.com/amsalheiwa
    2. http://www.reverbnation.com/vecktorstockferly/songs

dan Apabila Anda ingin melihat Video klip dari mereka anda jiga dapat mengunjungi youtube di link dibawah ini :

     1. http://youtu.be/owesThokmyM
     2. http://youtu.be/VrEHnEqgAcU
     3. http://youtu.be/GOVXhoLzSbo
     4. http://youtu.be/Uvxh-KcXeqY
     5. http://youtu.be/TLvMli0uEis
     6. http://youtu.be/cN82JizxIMU

Untuk itu kita Patut Memberikan Apresiasi Kepada Generasi Muda Karo yang Berkarya di Industri Musik....

Sekian....!!!!

Salam dari saya....


Mejuah - juah !


Sabtu, 05 Januari 2013

Winta Karna Pendiri Karate Kala Hitam Kyokushin Kai di Medan

Karate Kala Hitam Kyokushin Kai-Kan

Sejarah Pendiri KARATE KYOKUSHIN KALA HITAM KANCHO WINTA KARNA


Kancho Winta Karna , Lelaki berperawakan sedang ini merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. ia lahir dari pasangan Irawan dan Misnariani. Winta Karna dilahirkan di sebuah desa bernama Tiganderket ,sekitar 15 KM sebelah barat kota Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo ,23 april 1944.
Kancho Winta Karna mengenal bela diri dari kelas 1 smp , winta karna saat itu belajar bela diri kungfu dari seorang temannya di jalan Veteran (d/h Jalan Bali) selama 8 bulan . setelah belajar selama 8 bulan winta karna menyadari gurunya itu ternyata terlalu pelit untuk menurunkan Ilmu.

Tiga bulan pertama dia hanya diajar kuda-kuda (kiba dachi). setelah itu pada tiga bulan berikutnya baru diajar teknik pukulan lurus ke depan (chudan Tsuki) , sehingga terasa sangat monoton dan membosankan, Winta lalu memutuskan u ntuk berhenti , dia pun pindah ke perguruan Karate di jalan pandan medan. Dojo ini diasuh oleh MR. Anggiono, beberapa bula kemudian perguruan ini pindah ke AUla perguruan Sutomo di jalan jambi. Dojo tersebut akhirnya berhenti karena murid-muridnya mengundurkan diri akibat beratnya latihan dan ujian kenaikkan tingkat , sehingga yang tinggal bertahan hanya Winta sendiri . Karena tidak lagi memiliki murid , perguruan bela diri ini secara otomatis berhenti. Pada saat itu , Winta harus belajar sendiri agar Teknik-teknik yang dipelajarinya jangan sampai lupa.
Tahun 1962 Winta berhasil menamatkan pendidikannya dari SMA perguruan Setia .Dan setelah Tamat Winta pun ditawarkan pekerjaan masuk di PT. Biro Asri, Winta segera beradaptasi dengan baik, sehingga semua orang sayang kepadanya . ketelitian dan kejujurannya membuat Winta dalam waktu singkat menjadi salah satu kepercayaan pimpinan. Diapun acapkali diminta untuk menyelesaikan berbagai macam urusan , termasuk menemani pimpinan ketika MEETING dengan tamu-tamu asing.
Meskipun dojo tempat berlatih sudah tutup dan aktivitasnya sehari-hari banyak bergelut di tempat kerjaan, bukan berarti Winta lantas berhenti berlatih karate, Baginya selagi jantung berdenyut, latihan karate tidak pernah berhenti, Begtulah kecintaannya terhadap ilmu bela diri yang satu ini , setelah tempat berlatihnya tutup, winta memang sempat khawatir dirinya tidak akan bisa meningkatkan kemampuan di bidang karate, tetapi Dewi Fortuna sepertinya masi berpihak kepadanya.
Kisahnya bermula ketika perusahaan tempatnya bekerja memenangkan tender pemasangan pipa Pertamina di bawah laut . Karena saat itu teknisi dalam negeri tidak ada yang mampu mengerjakannya, maka didatangkanlah ahli las dari Jepang, Ketika jamuan makan malam dengan orang-orang Jepang ini, Kepala teknik PT Biro Asri memperkenalkan Winta pada tamu-tamunya.
Pimpinan perusahaan bernama Nurpin Harsono yang kemudian menjadi mertuanya itu juga menyebutkan bahwa WInta seorang pemain karate, Rupanya usai jamuan makan malam , teknisi Jepang yang juga pemain karate itu memanggil Winta . Keduanya pun cepat akrab . Warga Jepang yang bernama Kawa Kitha tersebut lalu mengajak Winta ke Campnya untuk berlatih bersama , Kegiatan ini berlangsung hingga 6 bulan . Kawa Kitha lalu memberikan rekomendasi ke perwakilan Kyokushinkai zone Asia Tenggara yang berkantor di Singapore untuk mengikuti ujian guna mendapatkan sabuk hitam DAN-1.
Di Singapore. Winta langsung diuji oleh Branch Chiefnya Mr Peter Chong dan dinyatakan lulus dengan memuaskan.
Satu setengah tahun berikutnya .Peter Chong memberikan rekomendasi agar Winta Karna ujian ke Jepang untuk mengambil sabuk hitam DAN-ll .Ia juga berhasil menyelesaikan ujian dengan baik, dan pada tahun 1976 winta berhasil menyabet DAN-lll di Jepang, Ketika mengikuti ujian kenaikkan tingakat ini . Rupanya Matsutatsu Oyama yang juga pendiri aliran Kyokushinkai ini memperhatikan kemampuan dan teknik karate Winta .
Kanchu Full Contack ini lalu memberikan kesempatan kepadanya agar mengikuti ujian mental dan pengetahuan umum sebagai salah satu syarat untuk dapat diangkat sebagai pelatih international . Hasilnya lagi-lagi sangat memuaskan , Guru karate yang akrab di kalangan murid-muridnya dengan panggilan Sensei ini bisa menyelesaikan seluruh materi ujian dengan sangat baik .
Setelah melewati proses seleksi yang sangat ketat, akhirnya Winta karna memperoleh sertifikat International untuk membuka Perguruan Karate di Indonesia .(yang akhirnya berpusat di kota Medan dengan nama Perguruan Karate Kala Hitam KyokushinKaikan)
sertifikat ini ditandatangani oleh M.mori (President International Karate Organization Honbu Kyokushin Syogakukai Kyokushinkaikan) selain itu sertifikat ini juga ditandatangani oleh Direktur Umumnya H Shiatsugu ,Serta Kanchu Full Contack , Matsutatsu Oyama.
Pasukan MARINIR INDONESIA juga dilatih langsung oleh Winta Karna.
Dan Pasukan Khas TNI juga dilatih oleh Winta Karna.



Jumat, 14 Desember 2012

Inilah Nasib Silat Karo !

Inilah Nasib Silat Karo!

Teringat saya pada suatu masa tatkala saya menonton sinema elektronik di TVRI tentang Karo yang adegan ceritanya dibumbui Silat Karo (mayan). Itu 26 tahun silam. Silat Karo menarik bukan saja indah gerakannya, tetapi konon karena kemampuan kanuragan atau metafisik yang memungkinkan sang pendekar berubah wujud menjadi binatang. Silat Karo juga bukan sekadar teknik bela diri, tapi merupakan perwujudan kearifan lokal Indonesia, bahkan di masa silan turut andil dalam perang revolusi dan beberapa konflik kekuasaan lokal.

Tetapi apa kabar Silat Karo hari ini, khususnya di tengah gelombang musik Karo modern yang berbantuankan keyboard yang sangat digandrungi? Menurut Pemimpin Redaksi Sora Sirulo, Ita Apulina Tarigan, Silat Karo mulai punah karena sangat sedikit orang Karo yang berminat mempelajarinya. Memang ada yang mampu, tetapi biasanaya ia hanya bisa mempraktikkan sekadarnya saja. Maka tidak heran Silat Karo kini mulai punah. Ita juga sependapat dengan saya bahwa Silat Karo tidak lagi dikenal, karena rendahnya kemampuan publikasi tertulis orang Karo. Maka, dapat dimaklumi kalau sahabat saya tidak percaya kalau Karo punya silat.

Silat Karo selama ini jarang ditampilkan dalam Kerja Tahun. Dan sepengetahuan saya Silat Karo jarang tampil dalam acara pernikahan (pasu-pasu), termasuk guro-guro aron. Padahal di acara yang satu ini di masa silam Silat Karo wajib ditampilkan. Dalam beberapa video musik ada memang Silat Karo ditampilkan, tetapi sekadar tempelan dan itu pun tidak berpenciri perkelahian. Lebih terlihat seperti menari. Membosankan.
Menurut Antropolog Universitas Sumatera Utara, Juara R. Ginting, hingga tahun 1970-an, masih terdapat beberapa perguruan silat di beberapa kampung di Kabupaten Karo. Para remaja Karo di saat itu tertarik belajar silat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan kota untuk melanjutkan studi. “Kebanyakan mereka harus berangkat ke Kabanjahe atau Berastagi dan Tigabinanga untuk meneruskan SMA. Ada juga perguruan silat seperti di Berastepu, Kecamatan Simpangempat, Kabupaten Karo yang mempersiapkan murid-muridnya untuk menguasai terminal Kabanjahe dan nantinya Pasar Bawah Binjai,” ujar Juara.
Dalam aksi kebudayaan Karo kontemporer, orang Karo sekarang lebih gemar ber-keyboard-ria, ramai-ramai menghaturkan keindahan tari dan musik. Jika di masa silam pendekar Silat Karo memiliki peran istimewa berbanding seniman musik, hari ini yang mendapat lebih banyak tepukan tangan adalah “pendekar keyboard”.
Menurut Juara R Ginting, meningkatnya pemikiran bahwa silat semata-mata hanya untuk berkelahi, dan orang-orang yang suka berkelahi biasanya malas bersekolah, membuat turun pula minat orang-orang Karo untuk mengembangkan pelatihan silat. Tapi, sejak tahun 1990-an, beberapa video Karo memperlihatkan adanya penampilan ndikkar di acara-acara kerja tahun yang ternyata cukup diminati sebagai sebuah hiburan seni.
Ita Tarigan bilang ada seorang pendekar Silat Karo yang telah melanglang buana mengajarkan ilmunya. Namanya Yakinsyah Brahmana, seorang Karo yang lama berdomisili di negeri kincir angin. Di sana, tepatnya di Sekolah Kristen Oikumene di Groningen, Yakinsyah mengajar mayan kepada lebih dari 200 siswa sekolah dasar itu. Maka dalam logika terekstrem, barangkali orang Karo akan belajar Silat Karo dari orang Belanda. Saya langsung membayangkan kelak ada beberapa billboard di Padang Bulan berisi ajakan belajar Silat Karo. Ada gambar seorang Belanda di sisi kanannya, seorang guru Silat Karo, hasil godokan Yakinsyah. Belajar Silat Karo dari orang Belanda? Tentu saja itu kenyataan yang menyebalkan.
Dalam wawancara pribadi dengan Yakinsyah, ia sendiri banyak belajar Silat Karo dari beberapa guru sejak tahun 1981-1992, ketika ia masih berprofesi sebagai pemandu wisata di Berastagi dan Sungai Alas, Aceh Tenggara. Kali pertama Yakinsyah mendapatkan ilmu Silat Karo adalah dari ayahnya. Ketika masih bocah sang ayah memberikan kepadanya kitab silat karya  ayahnya. Menurut Yakinsyah ayahnya benar-benar paham teori bersilat, tetapi kurang dalam praktik. Untuk itulah sang ayah mencarikannya seorang guru.
Di Belanda Yakinsyah mengaku tidak terlalu dekat dengan media yang memungkinkan dia memperluas pengaruh Silat Karo di sana. Walaupun demikian Yakinsyah benar-benar yakin Silat Karo akan mendapatkan tempat tersendiri di tengah perubahan perubahan zaman. “Saya sangat optimis, karena jurus ndikkar Karo itu adalah jurus hidup selalu disesuaikan dengan situasi kehidupan pada zamannya,” tutur Yakinsyah.
Yakinsyah mengakui ia mulai jenuh di tinggal Belanda. Ada kerinduan yang amat sangat tergambar di wajah sang pendekar untuk kembali ke tanah kelahirannya. “Saya berniat berladang jagung sembari mendirikan perguruan Silat Karo di kampung. Sebagian hasil menjual jagung bisa dimanfaatkan mendirikan semacam perguruan Silat Karo,” kata Yakinsyah. Di masa depan adalah harapan bersama komunitas Karo akan terbit sebuah kitab tentang Silat Karo sebagai jurus yang adiwacana


Refrensi                : http://vinsensius.info/index.php/2011/08/inilah-nasib-silat-karo/

Galeri Buku Karo

Galeri Buku Karo

 Hanging Without a Rope

Buku antropologi tentang  Karo ditulis Mary Margareth Steedly seorang Guru Besar dari Princenton University, US. Buku ini mendeskripsikan masyarakat di dataran tinggi Karo mulai sejak pra kolonial, masa penjajahan dan setelah kemerdekaan. Berbagai aspek kehidupan disorot, seperti organisasi sosial, kepercayaan, sistem pasar/perdagangan yang masih barter. Penduduk membawa hasil bumi dari dataran tinggi ke dataran rendah (Medan) menempuh jalan setapak selama 6 hari dan menukarnya dengan garam, senapan, linen, dll. Mereka dikenal dengan sebutan Perlanja Sira. Para missionaris mulai memperkenalkan sistem pendidikan kepada penduduk di sana dengan mengajarkan baca tulis dan berhitung.


Judul : Hanging Without a Rope (Nggantung La Ertinali)
- Narrative Expeience in Colonial and Postcolonial Karoland -
Penulis: Mary Margaret Steedly
Penerbit: Princenton University Press, New Jersey
Tahun: 1993

Dissociated Identities

Rita Smith Kipp banyak meneliti dan menulis tentang Karo. Profesor dari University of Machigan, US ini, selain menulis buku Dissociated Identities juga menulis buku The Early Years of a Dutch Collonial Mission - The Karo Field. Bersama suaminya Richard Kipp yang juga seorang antropolog, menulis tentang perkembangan masyarakat Karo mula-mula. Dalam penelitiannya tentang Karo banyak dibantu oleh Amin Ridwan, Payung Bangun, Pdt. A Ginting Suka, dll. Dalam buku The Early Years of a Dutch Colonial, ia banyak menulis tentang sejarah penginjilan kepada masyarakat Karo dari Netherlands Zendeling Genootschap. Pada satu bagian ia menulis, bahwa penginjilan kepada Karo guna memperlunak perlawanan orang Karo kepada kolonial, di perusahaan tembakau. Buah penginjilaan itu adalah GBKP yang dahulu dikenal dengan Gereja Kristen Karo.

Judul : Dissociated Identities - Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society
Penulis: Rita Smith Kipp





Refrensi           : http://www.bukukaro.com/2010_07_01_archive.html

Kalender Karo

Kalender Karo

Kalender Suku Karo mempunyai nama-nama tanggal, hari, dan bulan serta pembagian waktu, demikian juga nama-nama dari arah mata angin. Satu tahun dihitung 12 bulan, dan 1 bulan dihitung 30 hari.

Nama-nama bulan

Adapun nama-nama bulan dan binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan adalah sebagai berikut:
  • Bulan Sipaka sada merupakan bulan kambing
  • Bulan Sipaka dua merupakan bulan lampu
  • Bulan Sipaka telu merupakan bulan gaya (cacing)
  • Bulan Sipaka empat merupakan bulan katak
  • Bulan Sipaka lima merupakan bulan arimo (harimau)
  • Bulan Sipaka enem merupakan bulan kuliki (elang)
  • Bulan Sipaka pitu merupakan bulan kayu
  • Bulan Sipaka waluh merupakan bulan tambak (kolam)
  • Bulan Sipaka siwah merupakan bulan gayo (kepiting)
  • Bulan Sipaka sepuluh merupakan bulan belobat baluat atau balobat (sejenis alat musik tiup)
  • Bulan Sipaka sepuluh sada merupakan bulan batu
  • Bulan Sipaka sepuluh dua merupakan bulan nurung (ikan)

Nama-nama hari

Nama-nama hari pada suku Karo apabila diperhatikan banyak miripnya dengan kata-kata bahasa Sanskerta. Setiap hari dari tanggal itu mempunyai makna atau pengertian tertentu. Oleh karena itu apabila seseorang hendak merencanakan sesuatu, misalnya keberangkatan ke tempat jauh, berperang ke medan laga, memasuki rumah baru dan berbagai kegiatan lainnya. selalu dilihat harinya yang dianggap paling cocok. Di sinilah besarnya peranan "guru si beloh niktik wari" (dukun/orang tua yang pintar melihat hari dan bulan yang baik dan serasi), yang dengan perhitungannya secara seksama, ia menyarankan agar suatu acara yang direncanakan dilakukan pada hari X.
Adapun nama yang 30 dalam satu bulan adalah sebagai berikut:
  1. Aditia
  2. Suma
  3. Nggara
  4. Budaha
  5. Beras pati
  6. Cukra enem
  7. Belah naik
  8. Aditia naik
  9. Sumana siwah
  10. Nggara sepuluh
  11. Budaha ngadep
  12. Beras pati tangkep
  13. Cukera dudu (lau)
  14. Belah purnama raya
  15. Tula 
  16. Suma cepik
  17. Nggara enggo tula
  18. Budaha gok
  19. Beras pati
  20. Cukra si 20
  21. Belah turun
  22. Aditia turun
  23. Sumana mate
  24. Nggara simbelin
  25. Budaha medem
  26. Beras pati medem
  27. Cukrana mate
  28. Mate bulan ngulak
  29. Dalan bulan
  30. Sami sara 

Refrensi           : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Karo

Suku Karo

Suku Karo adalah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo atau Cakap Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Orang Karo

Daftar isi

Eksistensi Kerajaan Haru-Karo

Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darwan Prinst, SH :2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari Batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari ke-20 mukim bercampur dengan suku Karo. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Ja Sandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imeum Peuet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Pengaruh Suku Karo

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Tanah Karo


Tanah Karo terletak di kaki Gunung Sinabung (foto diambil sekitar tahun 1917).
Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut terites. Terites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Kota Medan

Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Kota Binjai

Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi

Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo:
  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tiga Lingga
  • Kecamatan Gunung Sitember

Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
  • Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
  • Kecamatan Simpang Simadam

Marga

Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:
  1. Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sinulingga, Sitepu dll (Jumlah = 18)
  2. Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero dll (Jumlah = 13)
  3. Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata, Manik, dll (Jumlah = 16)
  4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi dll (Jumlah = 15)
  5. Perangin-angin: Bangun, Kacinambun, Perbesi,Sebayang, Pinem, Sinurat dll (Jumlah = 18)
Total semua submerga adalah = 84
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka.

Rakut Sitelu

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:
  1. kalimbubu
  2. anak beru
  3. senina
Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti. dll ok

Tutur Siwaluh

Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:
  1. puang kalimbubu
  2. kalimbubu
  3. senina
  4. sembuyak
  5. senina sipemeren
  6. senina sepengalon/sedalanen
  7. anak beru
  8. anak beru menteri
Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
  1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
  2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
    • Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
    • Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
    • Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
  3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
  4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
  5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
  6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
  7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:
    • anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
    • Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
  8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

Aksara

Aksara Karo

Aksara Karo
Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek

Kebudayaan tradisional

Suku Karo mempunyai beberapa kebudayaan tradisional, di antaranya tari tradisional:
Suku Karo juga memiliki drama tradisional yang disebut dengan kata Gundala.

Kegiatan Budaya

  • Merdang merdem = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
  • Mahpah = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
  • Mengket Rumah Mbaru - Pesta memasuki rumah (adat - ibadat) baru.
  • Mbesur-mbesuri - "Ngerires" - membuat lemang waktu padi mulai bunting.
  • Ndilo Udan - memanggil hujan.
  • Rebu-rebu - mirip pesta "kerja tahun".
  • Ngumbung - hari jeda "aron" (kumpulan pekerja di desa).
  • Erpangir Ku Lau - penyucian diri (untuk membuang sial).
  • Raleng Tendi - "Ngicik Tendi" = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  • Motong Rambai - Pesta kecil keluarga - handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
  • Ngaloken Cincin Upah Tendi - Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  • Ngaloken Rawit - Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) - keponakan laki-laki.

Galeri