Powered By Blogger

Senin, 10 Desember 2012

WMF Renovasi Rumah Adat Karo

World Monuments Fund (WMF), sebuah lembaga yang peduli terhadap kelestarian benda cagar budaya asal Amerika Serikat merenovasi sejumlah rumah adat masyarakat Karo yang terancam punah di Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Direktur Penelitian dan Pendidikan WMF Erica Avromi di Medan, Senin, mengatakan setiap dua tahun sekali pihaknya melakukan renovasi terhadap benda-benda cagar budaya yang terancam punah di berbagai negara di dunia.
Selama ini sedikitnya sudah lebih dari 600 benda cagar budaya atau situs yang mereka renovasi. Pengerjaan renovasi juga melibatkan pemerintah negara setempat dan lembaga peduli kelestarian cagar budaya dari masing-masing negara.
Untuk tahun ini pihaknya mencatat ada sekitar 76 benda cagar budaya yang mendapat kesempatan untuk direnovasi dari beberapa negara, salah satunya adalah benda-benda cagar budaya di Desa Lingga yang memang keberadaanya sudah terancam punah karena kurangnya perawatan.
Beberapa benda cagar budaya yang direnovasi di Desa Lingga yakni dua unit rumah adat, satu unit jambur (bangunan tempat berkumpul), dan satu unit geriten (tempat penyimpanan hasil panen).
Anggaran yang disiapkan untuk merenovasi keempat unit bangunan tersebut sebesar 62 ribu dollar AS dengan waktu pengerjaan selama empat bulan.
“Kami berharap dapat merekonstruksi bangunan-bangunan tersebut sesuai dengan bentuk aslinya. Untuk itu tentunya dukungan dari masyarakat dan pemerintah setempat sangat kami butuhkan,” katanya.
Wakil Ketua Badan Warisan Sumatera (BWS) Dr Asmyta Surbakti mengatakan usulan untuk merenovasi bangunan cagar budaya di Desa Lingga tersebut ke WM membutuhkan waktu lebih dari satu tahun setelah melalui beberapa kali penelitian.
“Kita bangga karena bangunan cagar budaya di Desa Lingga itu akhirnya bisa masuk dalam proyek renovasi WMF. Apalagi mereka langsung melibatkan arsitek dari Jerman yang selama ini juga telah berpartisipasi dalam pengerjaan renovasi banguan bersejarah lainnya di beberapa negara,” katanya. (antara sumut)

Incoming search terms:

  • budaya karo (benda-benda religi) (1)
Refrensi          : http://www.karo.or.id/wmf-renovasi-rumah-adat-karo/

Merga - merga kalak Karo ras Sub Mergana

Merga Merga Kalak Karo ras Sub Mergana
MergaSub Merga
Karo Karo -Karo Sekali
-Kemit
-Samura
-Sitepu
-Sinuhaji
-Sinuraya
-Sinulingga
-Bukit
-Barus
-Kaban
-Purba
-Kacaribu
-Ketaren
-Sinukaban
-Surbakti
-Sinubulan
-Gurusinga
Ginting -Suka
-Sugihen
-Seragih
-Sinusinga
-Munte
-Manik
-Babo
-Beras
-Garamata
-Gurupatih
-Ajinembah
-Jawak
-Jadibata
-Tumangger
-Capah
-Pase
Sembiring -Berahmana
-Meliala
-Muham
-Maha
-Pandia
-Pelawi
-Depari
-Colia
-Tekang
-Gurukinayan
-Bunuaji
-Keling
-Kembaren
-Keloko
-Sinupayung
-Sinulaki
-Busuk
-Sinukapar
Peranginangin                                 -Kacinambun
-Bangun
-Pinem
-Perbesi
-Sukatendel
-Singarimbun
-Pencawan
-Keliat
-Kutabuluh
-Sebayang
-Ulunjandi
-Benjerang
-Mano
-Namohaji
-Uwir
-Laksa
-Penggarun
-Tanjung ras -Sinurat                             
Tarigan -Tua
-Tegur
-Tambun
-Tendang
-Tambak
-Gersang
-Gerneng
-Gana-gana
-Purba
-Pekan
-Sibero
-Silangit
-Janpang
-Bondong

Incoming search terms:

  • kamus kalak karo (2)
  • Merga-merga kalak karo (1)
 refrensi          : http://www.karo.or.id/merga-merga-kalak-karo/

Tama Ginting Pejuang Karo Yang Terlupakan

Salah satu tokoh Karo, Tama Ginting, tak banyak yang tahu dengan tokoh Karo satu ini. Sehingga ia hanyalah seorang pejuang yang terlupakan. Berbeda dengan tokoh-tokoh Karo di zamannya, ia lebih cendrung melakukan perlawanan lewat jalur politik. Jasanya dalam menentang penjajah Belanda dan pemerintah pendudukan Jepang, pelaksanaan Revolusi Sosial tak berdarah dan meredam konflik etnis antara Karo dan Tapanuli patut di hargai.
Zaman Penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang
Kedekatannya dengan Ishak Kesuma seorang tokoh pergerakan Nasional, Tama Ginting berhasil mengerakkan rakyat melawan penjajahan Belanda di Tanah Tinggi Karo bersama Pa Tolong Manik dan Keras Surbakti melalui Pendidikan Nasional Indonesia Cabang Tanah Karo sekitar Tahun 1937 di Berastagi, sepuluh tahun setelah pemberontakan rakyat menentang penjajahan Belanda yang digerakkan oleh PKI di kota yang sama. Dua tahun setelahnya, Belanda berhasil meredam gerakan tersebut dan menangkap Tama Ginting dan memenjarakannya di Kabanjahe. Sementara itu Pa Tolong Manik dan Keras Surbakti dibuang ke Cimahi. Itulah awal perlawanannya yang frontal terhadap penjajah.
Penangkapan itu tidak menyurutkan gerakannya melawan penjajah. Malahan ia menggerakkan ribuan rakyat dari Berastagi melakukan demonstrasi kekota Kabanjahe pada tahun 1942, sebagai ucapan terima kasih kepada Jepang yang telah berhasil mengusir Belanda dari Tanah Karo. Akhir tahun 1942 Tama Ginting, Rakutta Sembiring dan tokoh-tokoh lainnya memberikan latihan kader bagi para pemuda untuk mempersiapkan diri dalam menerima penyerahan kemerdekaan dari Jepang. Para pemuda inilah yang kemudian merapatkan barisan dalam Kyodo Buedan ( Barisan Perlindungan udara Desa).
Sistim monopoli yang diberlakukan Jepang pada saat itu menimbulkan kemelaratan bagi rakyat. Barang kebutuhan hilang di pasaran, perampsan hasil pertanian, busung lapar muncul dimana-mana. Istilah Jepang “Saudara Tua”, ternyata hanya menimbulkan malapetaka. Dalam situasi demikian, Tama Ginting, Rakutta Berahmana, Selamat Ginting dan Bosar Sianipar membentuk Poesra (Poesat Ekonomi Rakyat) di Berastagi yang bertujuan membela ekonomi rakyat dan menghancurkan perekonomian Jepang di Tanah Karo. Sekembalinya dari Medan mengikuti pertemuan pemuda tanggal 21 September 1945, di Berastagi sebagai kota pergerakan, Tama Ginting mengumpulkan pemuda untuk membentuk Barisan Pemuda Indonesia Cabang Berastagi dan menyampaikan berita Kemerdekaan.
Seputar Revolusi Sosial
Menyikapi maklumat pemerintah tentang partai-partai politik, ternyata menimbulkan disharmoni dikalangan barisan kelaskaran. Seperti pusat dan daerah lainnya di Indonesia, di Karo juga terkadi pertikaian antar partai politik dan barisan-barisan kelaskarannya. Ide Tan Malaka untuk membentuk satu kesatuan perjuangan dalam satu komando guna menentang diplomasi Belanda yang ingin kembali menjajah terwujud pada 6 November 1946 di Porwokerto dengan berdirinya Volksfront (persatuan perjuangan). Tama Ginting dipercaya memimpin persatuan perjuangan Tanah Karo yang berkedudukan di Berastagi.
Meletusnya revolusi sosial di Sumatera Timur tidak terlepas dari sikap sultan-sultan, raja-raja Sibayak dan kaum feodal pada umumnya, yang tidak begitu antusias terhadap kemerdekaan Kaum Bangsawan bekerja sama dengan Belanda/NICA, sehingga semakin menjauhkan diri dari pihak pro-republik. Sementara itu pihak pro-republik mendesak kepada komite nasional wilayah Sumatera Timur supaya daerah istimewa seperti Pemerintahan swapraja/kerajaan dihapuskan dan menggantikannya dengan pemerintahan demokrasi rakyat sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Revolusi Sosial ini di motori oleh Volksfront dengan pimpinan utama Sarwono Sastro Sutardjo, Zainal Baharuddin, M. Saleh Umar, Nathar Zainuddin dan Abdul Xarim MS yang bekerja di balik layar. Laskar yang berperan dalam aksi ini adalah Pesindo, Napindo, Barisan Harimau Liar, Barisan Merah (PKI) dan Hizbullah didukung buruh Jawa dari perkebunan serta kaum tani.
Di Tanah Karo pimpinan persatuan perjuangan mengadakan rapat di Kabanjahe dan Berastagi untuk melaksanakan Revolusi Sosial agar berjalan tanpa pertumphan darah, karena umumnya Raja-Raja dan sibayak di Tanah Karo tidak melakukan kegiatan anti repoblik. Revolusi sosial ini juga di motori oleh Persatuan perjuangan dengan alat pelaksana Barisan Kelaskaran Pesindo. Pada tanggal 3 Maret 1946, Persatuan perjuangan mengundang seluruh Raja dan Sibayak di Tanah Karo beserta pengikutnya untuk menghadiri pertemuan di Bungalow Sultan Deli di Bukit Gundaling. Seketika itu juga seluruh Raja dan Sibayak yang hadir diberitahukan penahanan atas dirinya. Para sibayak dan Raja urung ini selanjutnya dibawa ke Kota Cane dibawah pengawasan pemerintah Tanah Alas.
April 1946, sepasukan tentara laskar gabungan Pesindo Tanah Karo dan Laskar Aceh Tengah melakukan operasi revolusi sosial di daerah Sidikalang dan Pangururan. Operasi di pangururan ternyata mendapat hambatan, sepasukan tentara yang mayoritas warga Karo tersebut di tangkap dan ditahan di Balige. Sejalan dengan hal itu muncul isu bahwa kedatangan pasukan gabungan itu bukanlah usaha untuk melakukan revolusi sosial namun untuk menjajah. Isu ini cepat tersiar dan menimbulkan konflik antar suku. Segerombolan orang-orang mendatangi kampong-kampung yang didiami oleh suku Karo dan Pakpak, membunuh dan membakar rumahnya. Kejadian perang suku ini berlangsung selama sebulan. Untuk menyelesaikan konflik ini, Gubernur Sumatera mengutus Tama Ginting dan Saleh Umar untuk menghubungi pengetua dari kedua pihak yang bertikai guna mengambil jalan damai. Demikianlah upaya perdamaian dari konflik dapat terlaksana.
Penutup
Demikianlah sekelumit sepak terjang Tama Ginting di Tanah Karo dalam pergerakannya melawan penjajah Belanda dan Jepang, Revolusi Sosial dan pembetukan pemerintahan Karo yang berkedaulatan Rakyat seperti cita-cita proklamasi 17-8-1945. Di Tanah Karo, tokoh-tokoh seperti Rakutta Brahmana, Ngerajai Milala, Nerus Ginting Suka, Tama Ginting dan lainnya tak pernah dihargai. Ironisnya mereka bahkan seolah disingkirkan dari sejarah perjalanan bangsa ini. Mereka bukanlah pejuang yang angkat senjata dalam pergerakan kemerdekaan, namun buah pikir dan karya mereka patut dihargai dan disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan di Tanah Karo lainnya, sebagai khazanah bunga rampai sejarah kemerdekaan Republik Indonesia di Tanah Karo. (karokab)

Incoming search terms:

  • pahlawan tanah karo (4)
  • pahlawan tanahkaro (3)
  • sejarah belanda di tanah karo (2)
  • tanah karo di masa kolonial blanda dan jepang (2)
  • Tokoh Berastagi (1)
  • tokoh pemuda karo (1)
  • tokoh tokoh pejuang karo (1)
  • tokoh-tokoh pahlawan penentang kolonial (1)
  • Sejarah tentang pejuang indonesia yang terlupakan (1)
  • Sejarah penjajahan belanda ke tanah karo (1)

Refrensi          : http://www.karo.or.id/tama-ginting-pejuang-karo-yang-terlupakan/

Ditemukan Fosil Berusia 7.400 Tahun di Aceh Tengah


fosil_kerangka_manusia_purbaTim Arkeologi Balar, Medan, Sumatera Utara telah menemukan fosil kerangka manusia purba yang diperkirakan berusia 7.400 tahun di Ceruk Ujung Karang Jongok, Meluem Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Pj. Bupati Aceh Tengah Ir. Moh. Tanwier MM pun meminta bantuan pemerintah pusat untuk berperan serta dalam menjadikan lokasi temuan itu sebagai cagar budaya yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Saat berkunjung ke lokasi temuan di Ceruk Ujung Karang Jongok, Meluem Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Kamis (14/6) siang, Pj. Bupati Moh. Tanwier menyatakan, bentuk partisipasi yang diharapkan dari pemerintah pusat sebut meliputi pembebasan lahan di sekitar lokasi tempat ditemukannya fosil, pemugaran okasi ditemukannya fosil karena temuan situs prasejarah ini, bukan hanya menjadi milik daerah semata, tapi juga merupakan asset nasional.
”Mungkin dari temuan ini akan banyak dapat di gali kehidupan sebelum adanya kehidupan yang sekarang ini, karenanya kami berharap Pemerintah Pusat melaui Kementerian terkait, dapat mengirim tim ahli tambahan untuk menyelidiki dan menemukan cagar budaya baru, yang disinyalir masih terdapat diseputaran danau Laut Tawar,” kata Tanwier.
Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Periwisata, kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Aceh Tengah, Drs Ishak mengatakan, untuk tahapan proses penggalian Pemkab Aceh Tengah telah memberikan perhatian, sehingga hasil penyelidikan para tim Arkeologi telah mencapai hasil seperti ini.
Ketua Tim Arkeologi Sumatra Utara, I Ketut Wiradiyana mengatakan, pihaknya mulai penelitian di Ceruk Ujung Karang Jongok Meluem Kecamatan Kebayakan. sekitar tahun 2010. Sebelumnya pada tahun 2009 tim ini juga berhasil mengidentifikasi adanya lokasi fosil rangka manusia yang diperkirakan telah berusia 3.500 tahun lalu, di Ceruk Mendale tidak jauh dari ditemukannya lima fosil kerangka manusia di Ceruk Ujung Karang
Selain temuan lima fosil kerangka manusia di Ceruk Ujung Karang ini, tim Arkealogi Balar Medan ini juga menemukan sisa anyaman yang keseluruhannya diperkirakan berumur 7.400 tahun yang lalu.
Berangkat dari hal tersebut, papar Ketut, Pemerintah daerah mengajukan kegiatan berupa kasting yakni pencetakan duplikat kerangka-kerangka manusia. “Nah kerangka kerangka yang ada di Ujung Karang ini merupakan kerangka hasil cetakan, sedangkan aslinya sudah ada dimuseum Aceh Tengah,” papar Ketut.
Ketut juga menjelaskan proses pembuatan duplikat kerangka pra-sejarah, yang diawali dari cetakan yang telah disiapkan, diletakkan sesuai dengan posisi awalnya dari rangak yang ada, hal ini diperlukan untuk dijadikan sebagai salah satu tambahan obyek wisata budaya bagi Pemerintah Aceh Tengah.
Dari lima kerangka yang ditemukan, menurut Ketut, berusia sekitar 17 tahun terkecuali dua kerangka yang terletak secara berdampingan (berpasangan) dipastikan memiliki usia yang jauh lebih tua. Dan dari kerangka yang berpasangan itu nampaknya telah dilakukan berkali-kali pemotongan gigi, jadi besar kemungkinan kematiannya disebabkan oleh keries akibat kerusakan email giginya sebut Ketut Wiradyana menambahkan.
Berkaitan dengan DNA pihak arkeologi menyatakan belum diketahui dengan pasti karena hasil DNA yang ada pada kerangka prasejarah ini relatif terbatas. Namun demikian yang sudah di pastikan hasil DNA adalah DNA orang Gayo dengan DNA orang Karo.(setkab.go.id)

Incoming search terms:

  • sejarah aceh tengah (6)
  • rangka manusia (2)
  • fosil manusia purba di sumatera (2)
  • kebudayaan prasejarah aceh (2)
  • aceh tengah (1)
  • orang karo di aceh (1)
  • kebudayaan aceh tengah (1)
  • gambar pahlawan gayo aceh tengah (1)
  • gambar fosil di aceh tengah (1)
  • foto fosil berpasangan (1)

Refrensi         : http://www.karo.or.id/ditemukan-fosil-berusia-7-400-tahun-di-aceh-tengah/

Selasa, 04 Desember 2012

SEKELUMIT TENTANG KARO

Suku Karo adalah salah satu puak yang tinggal di Sumatera Utara. Memiliki 5 Marga,yaitu :
Karo-karo, Ginting, Tarigan, Perangin-angin, dan Sembiring. Mendiami Karo, Langkat, Deli, Dairi, Pakpak Barat, Kutacane (alas, gayo) hingga pantai barat Tapanuli Utara (Pelabuhan Tua "Barus").

Nama Karo sendiri ada beberapa tafsir:
1. Berasal dari kata Haru..
Haru adalah kerajaan tertua Nusantara yang sudah ada di abad pertama Masehi Rajanya              bernama Pa Lagan (Brama Putro dalam Bukunya "SEJARAH KARO DARI ZAMAN KE ZAMAN"). Kerajaan ini adalah cikal bakal kerajaan Samudra Pasai(Pasai/pase).
2.KARO = HA ROH dari pengertian bahasa toba yang artinya PERTAMA DATANG/ADA. (Buku Adat Istiadat Karo karya P.Tambunan)
3.Atau dari pebgaruh bahasa Arab yang berdagang  dijaman dahulu.
QARAU =  yang diajar Sembahyang/ yang diajar Membaca.
4.KARO = yang dalam bahasa Melayu Tua menyebut suku itu KARE yang Artinya KERAS, BERDARAH PANAS.
(Sejarah Kebudayaan Sumatera karya Dada Mauraxa).

Kebudayaan Karo selai kebudayaan Tuanya juga banyal menerima pengaru budaya-budaya luar seperti dari Afrika dan India.
Pengaruh kebudayaan Afrika yang masih dapat dilihat yaitu Makam yang terbuat dari Dolmen/batu, orang yang meninggal tidak ditanam melainkan disimpan dalam peti batu ada juga yang dibuatkan patung duduk dengan tangan letak di Paha. Ini persis dengan Makam raja-raja Mesir kuno. Cara macam ini masih sering dan Banyak dilakukan di Karo.
Pengaruh budaya India dapat dilihat dari Kitab lama bahwa dulu sebelum maraknya Agama di Karo,bahwa orang mati setelah upaca adatnya kemudian mayat dibakar dan abunya ditabur hanyutkan kesungai/kelaut. Supaya bersatu kembali kesungai Gangga-India!
Ini persis dengan kepercyaaan Hindu.
Pengaruh yang masih lekat dan masih dapar terlihat pada nama-nama sub Marga Sembiriing seperti : Brahmana, Colia, Pelawi, Milala, Keling, Pandia. Marga Pandia ini mengingatkan Kita Pada salah satu kisah di kitab Hindu Mahabrata tentang  jaman kareajaan ASOKA, ada satu kerajaan yang bernama Pandia.

Suku KAro sebelum Masuknya Agama sudah punya Kepercayaan sendiri yang disebut Pemena. Ada yang menyebutnya Perbegu. Dalam hal ini penulis hanya lebih memilih kata Pemena. Agama Pemne sebagai mana disebut di Toba sebagai Parmalim, di Kalimantan disebut Kaharingan dst. dalah agama asal/awal daerah Nusantara yang sampai saat ini masih ada Penganutnya sekalipun sudah terkikis dan nyaris punah mereka tak pernah hirau walu terus di dzolimi oleh Agama- agama pendatang ke Nusantara, termasuk opleh Pemerintah Republik sendiri. Agama Pemena percaya adanya dibata sebagai Pencipta, juga mengenal banyak Roh dan katanya Kitab nya adalah Alam Semesta dengan filosofi hidup RENDI ENTA RAWIN JEMBA. Seteleah masuknya pengaruh Hindu ada kebiasaan membuat sesajen dirumah, dijalan, dijembatan, dan kayu besar. Mantra dari pengaruh Hindu diawali dengan Kata HONG...setelah masuknya Islam banyak juga Mantra dikaro yang diawali Bismillahirrahmannirahim.... Dan ditutup dengan kata Allahu....(Sejarah Kebudayaan Sumatera;Dada Mauraxa)

Kerajaan - kerajaan Karo yang pernah Tertulis dalam antara lain Haru (abad 1 hingga 18), Pase/Pasai/Samudra Pasai (abad 4-15), Sunggal, Deli (abad 15-19), Haru Langkat, Haru Pane, Haru Deli Tua (Putri Hijau) dll.

Oleh   : Armansah Putra Singarimbun

                                                                                        Sumber:  (Yayan Rasulin Tarigan)
Refrensi   : Majalah Bulanan Tenah Budaya Karo No.250 Tahun Ke-XXII Edisi Mei 2012.

Kamis, 29 November 2012

Program Deret Aritmatika dan Deret Geometri

Nah kali ini saya akan Posting Salah Satu Perogram dari Pemrograman C++ yang saya Copas dari Blog Kawan saya...
maka untuk itu saya minta maaf dulu kepada kawan saya yang bernama Arman Hidayat Sirait atas si Copynya File ini ....

Nah,,Untuk itu langsung saja kita lihat Perogram Tersebut...

Ini program untuk Aritmatika:

#include <iostream.h>
#include <stdio.h>
int main()
//*deret aritmatika *
{
    float a, b, sn;
    int n, i;
    printf("berikan suku pertama : ");
    scanf("%f", &a);
    printf("berikan beda :");
    scanf("%f", &b);
    printf("jumlah deret sampai suku keberapa ?");
    scanf("%d", &n);
    sn = (n/2)*(2*a+((n-1)*b));
    printf("\njumlah deret hingga %d suku = %.2f\n", n, sn);
    system("pause");
}
Hasil compilenya ==รจ


 2. Deret geometri
#include <iostream.h>
#include <stdio.h>
int main ()
{
int n , i;
float a,r,rn,sn,s;
printf("berikan suku pertama deret :");
scanf("%f",&a);
printf("berikan rasio : ");
scanf("%f",&r);
printf("jumlah deret sampai suku keberapa ?? ");
scanf("%d",&n);
s = a;
for(rn=r,i=1;i<n;i++)
{
    rn *=r;
    printf("%.2f",s);
    s = s*r ;
    }
    if (r>1)
    sn = (a*(rn -1))/(r-i);
    else
    sn = (a*(1-rn))/(1-r);
    printf ("\n jumlah deret hingga %d suku = %f\n",n,sn);
         system("pause");
              }
                     
Hasil compilnya  ===>

semoga saja program ini bermanfaat untuk kita semua....
Terima Kasih...........



Refrensi:http://armanfin.blogspot.com/2012/11/contoh-program-c-deret-aritmatika-dan.html

Jumat, 23 November 2012

Pria-pria Karo Tempo Doeloe

Pria Karo


 Pria Tua Karo
Date : 1904-1930
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)
Potret manusia Dataran Tinggi Karo
Portret van een Karo man, Karo-Hoogvlakte
 Date : voor/before 1916
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
Potret orang Karo-tua, Karolanden, Sumatra `s Pantai Timur
Portret van een oude Karo-man, Karolanden, Sumatra`s Oostkust
Date : 1920-1925
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
 
Seorang pria keturunan Karo, Sumatera Utara
Een man van Karo afkomst, Noord-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown

Seorang pria keturunan Karo, Sumatera Utara
Een man van Karo afkomst, Noord-Sumatra
Date : 1914-1926
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Tiga orang keturunanKaro.Karo, Sumatera Utara
Drie mannen van Karo afkomst in de KaroLanden, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)


Pria Karo
Een man van Karonese afkomst, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
Seorang pria keturunan Karo dengan anaknya, Sumatera Utara
Een man van Karonese afkomst met zijn zoon, Noord-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown
Potret kepala desa, Karo
Portret van een dorpshoofd, Karo
Date : 1900-1923
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
Sebuah kelompok asal Karo di kampung, North Sumatra Timur
Een groep van Karolanden afkomst in een kampong, Noordoost-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown
Penjual anjing
De Karo staan bekend als eters van hondenvlees.. Handelaar in honden (voor de slacht) te Karo, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
Refrensi : 1.http://merga-silima.blogspot.com/2011/05/pria-karo-bagian-1.html
                 2.http://merga-silima.blogspot.com/2011/05/pria-karo-bagian-2.html